Menjaga Orientasi Hidup di Tengah Hingar-Bingar Kehidupan bersama Ust. Dr. Bagus Mustakim, S.Ag., M.S.I.,

Ngawi — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngawi kembali menyelenggarakan Kajian Ahad Pagi yang diikuti jamaah dari berbagai kalangan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh PCM Ngawi ini menjadi salah satu ikhtiar untuk terus menghidupkan dakwah di tengah dinamika dan kesibukan masyarakat.

Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an Surat Al-Ma'arij ayat 1–7 oleh salah seorang santri SMA Muhammadiyah 1 Ngawi. Suasana khidmat terasa saat lantunan ayat Al-Qur'an mengawali rangkaian kajian.

Acara kemudian dipandu oleh Ketua Majelis Tabligh PCM Ngawi, Edi Triyono, S.Pd.I., selaku pembawa acara. Kajian menghadirkan Dr. Bagus Mustakim, S.Ag., M.S.I., Anggota Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah, sebagai pemateri.

Menjaga Dakwah di Tengah Hingar-Bingar Masyarakat

Dalam pemaparannya, beliau mengawali kajian dengan menyoroti maraknya berbagai aktivitas masyarakat dalam menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-81. Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan semarak kehidupan masyarakat yang dinamis dan beragam.

Di tengah kondisi tersebut, beliau mengungkapkan pentingnya menjaga dan terus menghidupkan dakwah. Dakwah tidak boleh berhenti hanya karena perubahan zaman maupun padatnya aktivitas masyarakat. Justru di tengah keberagaman dan hiruk-pikuk kehidupan, dakwah perlu tetap hadir untuk memberikan arah dan menguatkan nilai-nilai Islam.

Salah satu wujud nyatanya adalah tetap berlangsungnya Kajian Ahad Pagi di tengah hiruk-pikuk aktivitas masyarakat. Ketika sebagian masyarakat disibukkan dengan berbagai kegiatan, kajian tetap menjadi ruang untuk menghidupkan dakwah, memperkuat silaturahmi, serta mengingatkan kembali pentingnya nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Keterputusan Orientasi Generasi Penerus

Beliau juga mengingatkan adanya “keterputusan orientasi” hidup generasi penerus. Tidak jarang orang tua begitu aktif dalam kegiatan dakwah, sementara generasi setelahnya justru memilih jalan yang berbeda dan tidak melanjutkan keterlibatan tersebut.

Kondisi ini menjadi bahan refleksi bahwa nilai-nilai dakwah tidak cukup diwariskan melalui nasihat. Keteladanan, pembiasaan, kedekatan, dan keterlibatan bersama dalam kehidupan keluarga menjadi bagian penting agar orientasi hidup tersebut dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Menurut pemateri, kesinambungan dakwah tidak hanya berkaitan dengan keberlanjutan sebuah aktivitas, tetapi juga menyangkut kesamaan orientasi hidup. Generasi penerus perlu memahami untuk apa mereka hidup, kepada siapa kehidupan ini dipersembahkan, dan ke mana kehidupan pada akhirnya akan bermuara.

Tujuan Hidup: Allah dan Hari Akhir

Pemateri menekankan kembali bahwa hakikat tujuan hidup manusia adalah mengarahkan seluruh kehidupan kepada Allah dan mempersiapkan diri menuju kehidupan akhirat. Aktivitas duniawi, baik keluarga, pekerjaan, pendidikan maupun keterlibatan di tengah masyarakat, hendaknya tidak membuat manusia kehilangan orientasi utama tersebut.

Kesadaran akan tujuan hidup kepada Allah dan hari akhir menjadi landasan penting dalam membangun keluarga, menjaga keteladanan, serta menghidupkan dakwah di tengah dinamika kehidupan.

Tetap Menjaga Salat di Tengah Kesibukan

Untuk memberikan gambaran konkret, pemateri mencontohkan bagaimana seseorang yang memiliki orientasi hidup kepada Allah dan hari akhir tetap dapat menjaganya meskipun berada di tengah kesibukan dan dinamika kehidupan kota besar.

Aktivitas yang dimulai sejak sebelum Subuh hingga malam hari tidak semestinya menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban kepada Allah. Orang yang memiliki orientasi tersebut akan tetap berusaha menjaga salat di mana pun berada.

Ketika berada dalam perjalanan, ia tetap mencari kesempatan untuk menunaikan salat, baik di kereta, stasiun, maupun di sela-sela aktivitas di kantor. Kesibukan tidak menghilangkan orientasi hidupnya karena seluruh aktivitas dunia tetap ditempatkan dalam kerangka pengabdian kepada Allah dan persiapan menuju kehidupan akhirat.

Contoh tersebut menjadi pengingat bahwa yang menentukan bukan seberapa sibuk seseorang dalam menjalani kehidupan, tetapi ke mana orientasi hidupnya diarahkan. Ketika Allah dan hari akhir tetap menjadi tujuan, berbagai kesibukan duniawi dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju kebaikan, bukan alasan untuk menjauh dari-Nya.

Menjaga Kesinambungan Dakwah

Kajian Ahad Pagi PCM Ngawi pada akhirnya menjadi ruang refleksi bersama bahwa dakwah harus terus hidup, sekalipun masyarakat bergerak dengan berbagai kesibukan dan dinamika. Keberlanjutan dakwah juga perlu dibarengi dengan upaya menjaga agar orientasi hidup generasi penerus tidak terputus.

Melalui keluarga, keteladanan, pendidikan, dan lingkungan dakwah, nilai-nilai tersebut diharapkan terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian, semarak kehidupan dunia tidak membuat manusia kehilangan arah, tetapi justru menjadi bagian dari perjalanan untuk mendekat kepada Allah dan mempersiapkan kehidupan akhirat.