
KHUTBAH PERTAMA
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan dunia menuju kebahagiaan akhirat.
Kita berada di bulan Muharram, salah satu bulan yang dimuliakan Allah Swt. Di dalamnya terdapat hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram, hari yang memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam.
Rasulullah ﷺ berpuasa pada hari tersebut dan menganjurkan umatnya untuk berpuasa. Ketika beliau tiba di Madinah dan mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura, mereka menjelaskan bahwa hari itu adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa a.s. dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
"Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Peristiwa penyelamatan Nabi Musa bukanlah sekadar kisah sejarah yang diceritakan dari generasi ke generasi. Al-Qur'an tidak menghadirkan kisah para nabi untuk sekadar diketahui, melainkan untuk dijadikan pelajaran hidup.
Allah Swt. berfirman:
"Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal." (QS. Yusuf: 111)
Kisah Nabi Musa mengajarkan kepada kita hakikat tauhid dan keyakinan kepada pertolongan Allah.
Ketika Nabi Musa membawa Bani Israil keluar dari Mesir, mereka dikejar oleh Fir'aun dan bala tentaranya. Di hadapan mereka terbentang laut yang luas, sedangkan di belakang mereka pasukan yang siap membinasakan.
Keadaan itu tampak mustahil untuk diselamatkan.
Karena itulah pengikut Nabi Musa berkata:
"Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul." (QS. Asy-Syu'ara: 61)
Inilah gambaran manusia ketika hanya melihat kenyataan dengan ukuran dunia. Ketika masalah datang bertubi-tubi, banyak orang kehilangan harapan. Ketika ekonomi sulit, merasa masa depan tertutup. Ketika menghadapi penyakit, merasa hidup tidak lagi memiliki jalan keluar. Ketika melihat berbagai persoalan umat, merasa tidak mungkin terjadi perubahan.
Namun Nabi Musa memberikan jawaban yang luar biasa.
"Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (QS. Asy-Syu'ara: 62)
Menurut Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, ayat ini menunjukkan kesempurnaan tawakal Nabi Musa kepada Allah. Beliau tidak melihat besarnya masalah, tetapi melihat kebesaran Allah yang menguasai segala sesuatu.
Inilah pelajaran pertama dari Asyura, yaitu bahwa seorang mukmin tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah.
Tauhid bukan sekadar mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallah. Tauhid harus melahirkan keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk ketika manusia tidak lagi melihat adanya jalan keluar.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Pelajaran kedua dari kisah Nabi Musa adalah bahwa kemenangan sejati berada di pihak kebenaran.
Fir'aun memiliki kekuasaan, tentara, dan kekayaan. Ia merasa dirinya tidak terkalahkan. Bahkan ia berkata:
"Akulah tuhanmu yang paling tinggi." (QS. An-Nazi'at: 24)
Kesombongan telah menutup hati dan pikirannya. Akibatnya, ia tenggelam bersama seluruh kekuasaan yang dibanggakannya.
Sedangkan Nabi Musa yang lemah secara kekuatan duniawi justru memperoleh kemenangan karena berada di jalan yang benar.
Kisah ini mengajarkan bahwa kekuatan iman lebih besar daripada kekuatan materi. Kebenaran mungkin tertunda kemenangannya, tetapi tidak akan pernah kalah.
Karena itu umat Islam harus menjadi umat yang optimis, bekerja keras, menuntut ilmu, memperbaiki diri, dan terus berjuang menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
KHUTBAH KEDUA
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Islam mengajarkan bahwa kisah-kisah Al-Qur'an harus melahirkan transformasi dalam kehidupan. Oleh karena itu, memaknai Asyura tidak cukup hanya dengan mengenang peristiwa penyelamatan Nabi Musa, tetapi harus menghadirkan nilai-nilainya dalam kehidupan nyata.
Keimanan Nabi Musa melahirkan keberanian.
Tauhid Nabi Musa melahirkan optimisme.
Kedekatan Nabi Musa kepada Allah melahirkan kekuatan menghadapi kezaliman.
Maka Asyura harus menjadi momentum untuk memperkuat keimanan, memperbanyak ibadah, meningkatkan kepedulian sosial, dan membangun masyarakat yang berkemajuan.
Di tengah berbagai persoalan bangsa dan umat, jangan sampai kita menjadi generasi yang mudah menyerah. Sebaliknya, jadilah generasi yang yakin bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi orang-orang yang beriman dan berusaha.
Allah Swt. berfirman:
"Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)
Marilah kita jadikan bulan Muharram dan hari Asyura sebagai momentum memperbarui iman, memperkuat tauhid, memperbanyak amal saleh, serta menumbuhkan optimisme dalam menghadapi kehidupan.



















