SEJARAH MUHAMMADIYAH DI NGAWI II MILAD 109 DAN 96 DI NGAWI

Fajar pencerahan Gerakan Muhammadiyah di kabupaten ngawi dimulai pada tahun 1918 yang kemudian secara resmi menjadi perkumpulan pada tahun 1925, dimana saat itu pada tanggal 6/7 Agustus 1925 di rumah mas Prawirodihardjo seorang Hoofmandoer Hospitaal di kampung ketanggi Kota Ngawi.....

Majelis Pustaka, Informasi dan Digitalisasi PDM Ngawi Ikuti Rakerwil MPID PWM Jawa Timur

Majelis Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ngawi mengikuti Rapat Kerja Wilayah (rakerwil) yang diselenggrakan oleh MPID PWM Jawa Timur. Rakerwil berlangsung di Aula Mas Mansyur PWM Jatim pada Sabtu (4/11)....

Pengukuhan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Ngawi Periode 2023-2027

Minggu 7 Januari 2024 bertempat di Pendopo Wedya Graha Kabupaten Ngawi telah dilaksanakan acara Pengukuhan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Ngawi. Proses pengukuhan ini dihadiri oleh Wakil Bupati Ngawi Dr. Dwi Rianto Jatmiko, MH, M.Si, unsur Forum Pimpinan Daerah, Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur, Unsur Pimpinan Organisasi Otonom Muhammadiyah, Pimpinan Organisasi Aisyiyah, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ngawi yang kali ini diwakili oleh Kabid. Kepemudaan Yetty Nilam Sulandriana, SS, M.M dan semua Pengurus Pemuda Muhammadiyah se Kabupaten Ngawi.

Majelis Tabligh PDM Ngawi Selenggarakan Raker Bahas Program Kerja dan Persoalan-Persoalan di Cabang

Sebagai upaya meningkatkan sinergi program kerja, Majelis Tabligh PDM Ngawi menyelenggarakan Rapat Kerja dan sosialisasi Program Kerja Majelis Tabligh PDM Ngawi. Sehubungan dengan hal tersebut, majelis Tabligh PDM Ngawi mengundang utusan dari Korbid Tabligh dan Majelis Tabligh PCM se-kabupaten ngawi......

Selepas Mengisi KAP, Prof. Dr. Biyanto, M.Ag. Meninjau Pembangunan Islamic Center Muhammadiyah (ICM) Ngawi

Kajian Ahad pagi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ngawi bersama Prof. Dr. Biyanto, M.Ag., mengangkat tema "Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah." Tema ini sangat relevan bagi warga Muhammadiyah, ...

Sabtu, 30 November 2024

Kajian Ahad Pagi PDM Ngawi: "Keluarga sebagai Benteng Kaderisasi" bersama Ust. H. Sukidi, M.Pd


Ngawi – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ngawi kembali mengadakan Kajian Ahad Pagi pada Minggu (1/12/2024) bertempat di KBIHU Surya Mabrur, Jl. Barnadib No. 3 Ngawi. Kajian ini menghadirkan Ustaz H. Sukidi, M.Pd dari PDM Surakarta, yang mengupas tema mendalam tentang pentingnya mempersiapkan bekal masa depan, yaitu kehidupan di akhirat.

Kegiatan ini diawali dengan penguatan oleh Ustaz Hadi Mustofa, perwakilan PDM Ngawi. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya menjadikan kajian sebagai sarana meningkatkan kualitas keimanan dan keilmuan. “Mari kita jadikan momen kajian ini sebagai wahana introspeksi dan semangat untuk terus menghidupkan dakwah Muhammadiyah,” ujarnya.

Kajian kali ini mengangkat tema strategis yakni "Keluarga sebagai Benteng Kaderisasi". Dalam mukadimah tausiyahnya, Ustaz H. Sukidi, M.Pd menyampaikan pesan mendalam tentang bekal kehidupan akhirat. Ia mengingatkan jamaah bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara. “Kehidupan sejati ada di akhirat. Maka, jadikan dunia ini sebagai ladang amal untuk menggapai ridha Allah,” tutur beliau.

Dalam tausiyahnya, Ustaz H. Sukidi, M.Pd mengarahkan pembahasan pada peran keluarga dalam mencetak kader-kader unggul. “Keluarga adalah madrasah pertama bagi anak. Dari keluargalah lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia dan berkomitmen pada perjuangan Muhammadiyah,” jelasnya.

Ustaz H. Sukidi, M.Pd mengingatkan jamaah tentang tujuan utama hidup, yaitu beribadah kepada Allah. Beliau menekankan pentingnya kesadaran bersama dalam keluarga untuk menjadikan ibadah sebagai inti kehidupan. “Keluarga yang kuat dalam ibadah adalah benteng yang mampu menghadapi segala tantangan. Mari mulai dari keluarga kita untuk membangun rumah tangga yang senantiasa taat kepada Allah,” ujar beliau.

Lanjutnya “Kalau ingin keluarga kita bahagia, syaratnya harus sakinah, mawaddah, dan rahmah. Kebahagiaan bukan sekadar materi, tetapi ketenangan jiwa yang hanya bisa diraih dengan mendekatkan diri kepada Allah,” tegas Ustaz Sukidi.

Kemudian Ust. Sukidi menyampaikan Qur'an Surah At-Tahrim ayat 66.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Dalam Islam, keluarga memiliki peran sentral sebagai tempat pembentukan generasi yang akan meneruskan risalah Rasulullah ﷺ. Membangun keluarga yang mampu melahirkan kader penerus dakwah memerlukan persiapan matang dan berkesinambungan. Ada tiga tahap penting yang harus diperhatikan:

1. Saat Memilih Pasangan: Mengutamakan Agama.

Pemilihan pasangan menjadi langkah awal yang menentukan kualitas keluarga. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Wanita dinikahi karena empat perkara: hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita karena agamanya, niscaya engkau beruntung." (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Setelah Menikah: Memulai Hubungan dengan Doa

Islam mengajarkan pentingnya melibatkan Allah dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam hubungan suami istri. Sebelum berhubungan,

3. Orang Tua sebagai Teladan yang Baik

Anak-anak adalah peniru ulung. Oleh karena itu, orang tua harus menjadi contoh yang baik dalam akhlak, ibadah, dan perilaku.

Dengan memenuhi ketiga aspek ini, keluarga menjadi tempat yang ideal untuk mencetak generasi penerus yang siap melanjutkan risalah Rasulullah ﷺ. Kader masa depan yang lahir dari keluarga seperti ini akan memiliki landasan iman yang kuat, akhlak mulia, dan semangat untuk menyebarkan nilai-nilai Islam ke masyarakat.

Di akhir kajiannya, Ustaz H. Sukidi, M.Pd, menekankan pentingnya mempersiapkan generasi penerus (kader) dalam Islam. Beliau merujuk pada QS. An-Nisa: 9 sebagai landasan penting dalam memahami tanggung jawab generasi saat ini terhadap generasi mendatang.

وَلۡيَخۡشَ ٱلَّذِينَ لَوۡ تَرَكُواْ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةٗ ضِعَٰفًا خَافُواْ عَلَيۡهِمۡ فَلۡيَتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡيَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدًا

Artinya: "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar."

Dengan merujuk pada ayat ini, Ustaz H. Sukidi mengingatkan bahwa mempersiapkan kader adalah bentuk ibadah dan tanggung jawab besar yang harus diemban oleh setiap keluarga dan komunitas Muslim. Beliau mengajak jamaah untuk menjadikan kaderisasi sebagai prioritas dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai pelaksana kegiatan kajian, SD Muhammadiyah Paron turut mendukung suksesnya acara ini. Kepala sekolah menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada sekolahnya untuk menjadi panitia KAP PDM Ngawi.

Kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi keluarga Muhammadiyah untuk terus mengokohkan peran rumah tangga sebagai benteng utama dalam membangun generasi penerus yang berkarakter islami.

Sabtu, 16 November 2024

Kajian Ahad Pagi PCM Ngawi: "Ilmu dalam Pandangan Al-Qur'an" Bersama Ust. Mahfudzi, M.Ag


Ngawi, 17 November 2024 – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngawi kembali menggelar Kajian Ahad Pagi yang rutin dilaksanakan di Masjid Tamam Ali Hasan, Jl. Barnadib, No.3 Kec. Ngawi. Kegiatan yang berlangsung pada Ahad pagi ini menghadirkan Ust. Mahfudzi, M.Ag, salah satu tokoh dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ngawi, sebagai pemateri utama.

Dalam kajian yang berlangsung di Masjid Tamam Ali Hasan tersebut, beliau mengangkat tema "Ilmu dalam Pandangan Al-Qur'an", yang mendapat perhatian penuh dari para jamaah.

Ust. Mahfudzi mengawali ceramahnya dengan menegaskan bahwa Al-Qur'an menempatkan ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama kehidupan umat manusia. Dalam ceramahnya, Ust. Mahfudzi menyitir firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 78 yang berbunyi:

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikan kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl: 78)

Beliau menjelaskan bahwa ayat ini mengingatkan manusia akan hakikatnya sebagai makhluk pembelajar. Allah menciptakan manusia tanpa pengetahuan, tetapi menganugerahkan alat-alat untuk mencari ilmu, yaitu pendengaran, penglihatan, dan akal.

"Ayat ini menunjukkan bahwa kewajiban menuntut ilmu adalah bagian dari rasa syukur kita kepada Allah atas nikmat yang diberikan. Ilmu bukan hanya untuk dunia, tetapi juga untuk memahami kehidupan dan mendekatkan diri kepada Allah," tegas Ust. Mahfudzi.

Lebih lanjut Ust. Mahfudzi, M.Ag menyampaikan Pernyataan Allah SWT dalam QS. Al-Mujadalah: 11 yang menegaskan keutamaan ilmu dalam firman-Nya:

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al-Mujadalah: 11)

Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Tidak hanya itu, Rasulullah SAW pun bersabda:

"Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim." (HR. Ibnu Majah)


Selain menyitir QS. An-Nahl ayat 78, beliau juga menjelaskan QS. Al-Baqarah ayat 30-33 untuk menekankan pentingnya ilmu sebagai keutamaan manusia.

Beliau membacakan firman Allah:

"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia menghadapkan (benda-benda) itu kepada para malaikat, lalu berfirman, 'Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!' Mereka menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.' (QS. Al-Baqarah: 31-32).

Ust. Mahfudzi menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan keutamaan manusia atas makhluk lain karena Allah telah mengajarkan ilmu pengetahuan kepada Nabi Adam AS. Pengetahuan yang diberikan kepada Adam meliputi nama-nama benda, simbol kemampuan manusia untuk memahami, mempelajari, dan mengembangkan ilmu.

"Ilmu adalah anugerah Allah yang menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dengan ilmu, manusia diberi tanggung jawab untuk memakmurkan bumi dan menjaga keseimbangan alam sesuai perintah Allah," jelas beliau.

Di akhir kajian, beliau menegaskan bahwa salah satu karakter iman sejati adalah semangat membaca dan menuntut ilmu, sebagaimana digambarkan dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1-5.

Beliau membacakan firman Allah:
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu-lah yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-‘Alaq: 1-5)

Ust. Mahfudzi menjelaskan bahwa wahyu pertama ini menegaskan pentingnya membaca sebagai pintu gerbang ilmu pengetahuan. Dalam konteks iman, membaca tidak hanya berarti memahami teks, tetapi juga merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.

Lebih lanjut, Ust. Mahfudzi menegaskan bahwa iman sejati adalah iman yang mendorong seseorang untuk terus belajar dan berbuat baik. Membaca merupakan bagian dari upaya memenuhi tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi.


Beliau juga mengingatkan jamaah untuk menanamkan budaya membaca sejak dini, terutama di kalangan generasi muda. "Apabila kita membaca dan mentadaburi al Qur'an maka akan banyak kita jumpai berbagai ilmu pengetahuan" Pungkasnya. Menurutnya, membaca harus dilandasi niat mencari ridha Allah agar ilmu yang diperoleh menjadi bermanfaat dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Jumat, 15 November 2024

SD Muhasa Ngawi Gelar Jalan Sehat, Rayakan Milad Ke-112 Muhammadiyah dan Milad ke-28 SD Muhasa


Ngawi, 16 November 2024 – Dalam semangat peringatan Milad Ke-112 Muhammadiyah dan Milad ke-28 SD Muhammadiyah 1 Ngawi (SD Muhasa), sekolah ini menggelar kegiatan jalan sehat yang melibatkan siswa, paguyuban wali murid, dan guru. Acara yang berlangsung penuh keceriaan ini dibuka langsung oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ngawi, Drs. Suhardi, M.Pd.

Dalam sambutannya, Drs. Suhardi, M.Pd. menyampaikan apresiasi terhadap SD Muhasa yang telah menjadi bagian penting dari dakwah Muhammadiyah di bidang pendidikan selama 28 tahun terakhir. "Kegiatan ini adalah bukti nyata bahwa SD Muhasa tidak hanya fokus pada pendidikan formal, tetapi juga membangun kebersamaan dan kesehatan masyarakat, sejalan dengan tema Milad Muhammadiyah ke-112, 'Menghadirkan Kemakmuran untuk Semua' " ungkapnya.


Peserta jalan sehat memulai perjalanan dari Alun alun Kota Ngawi, melewati rute Jl. Jaksa Agung Suprapto - Jl. Dr. Sutomo kemudian ke Jl. Ronggo Warsito menuju Jl. imam Bonjol lalu lewat depan Masjid Agung Baiturrahman dan berakhir di Finish (panggung utama). Para siswa tampak antusias membawa balon warna-warni, menciptakan suasana meriah sepanjang perjalanan.

Acara ini semakin semarak dengan pembagian doorprize menarik, termasuk hadiah utama berupa sepeda, kulkas, dll. Selain itu, bazar murah dan pentas seni peserta didik muhasa turut memeriahkan kegiatan, untuk memberikan kesempatan bagi peserta didik menunjukkan kreativitas mereka.


Kepala SD Muhasa Ngawi, Bapak Joko Santoso, S.Pd., menyampaikan rasa syukur atas kesuksesan acara tersebut. "Kami berharap Milad ke-28 ini menjadi momentum untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan kebermanfaatan SD Muhasa bagi masyarakat," ujarnya.

Salah satu wali murid, Bapak Imam Syamsuddin, mengaku bangga bisa berpartisipasi. “Kegiatan ini sangat positif, terlebih dengan kehadiran Ketua PDM yang memberikan motivasi bagi kita semua,” katanya.

Kegiatan peringatan Milad Muhammadiyah ke-112 dan Milad ke-28 SD Muhasa ini menjadi wujud komitmen sekolah untuk terus mendukung terciptanya kemakmuran, kebersamaan, dan kebermanfaatan bagi masyarakat.

Senin, 11 November 2024

SD Muhasa Gelar Outing Class ke Yogyakarta, Carter 5 Gerbong Kereta Api


Ngawi, 12 November 2024 – SD Muhammadiyah 1 Ngawi (SD Muhasa) menggelar outing class seru ke Yogyakarta untuk siswa kelas 4, 5, dan 6. Dalam kegiatan edukatif ini, pihak sekolah menyediakan 5 gerbong kereta api khusus, berangkat dari Stasiun Ngawi, dengan tujuan berbagai destinasi menarik dan penuh pembelajaran di Yogyakarta.

Kegiatan ini diawali dengan keberangkatan siswa dari Stasiun Ngawi, di mana suasana antusias dan keceriaan tampak dari wajah para siswa yang didampingi oleh guru serta beberapa wali murid. Titik destinasi pertama yang dikunjungi adalah Taman Pintar Yogyakarta, sebuah wahana edukasi yang dirancang untuk merangsang kreativitas dan rasa ingin tahu anak-anak. Di sini, para siswa mendapatkan pengalaman belajar interaktif melalui berbagai percobaan sains, permainan edukatif, serta berbagai instalasi yang memadukan unsur teknologi dan sains.


Berdasarkan rundown kegiatan, setelah menghabiskan waktu di Taman Pintar, rombongan Peserta didik SD Muhasa ke Situs Warisan Dunia UNESCO, yaitu Candi Prambanan. Di candi Hindu terbesar di Indonesia ini, peserta didik diajak untuk mengenal sejarah dan budaya Indonesia lebih dalam, serta mengagumi keindahan arsitektur kuno yang sarat nilai sejarah. Para siswa juga diberikan penjelasan oleh pemandu mengenai kisah dan makna di balik relief-relief yang terpahat di dinding candi.

Kepala Sekolah SD Muhasa, Bapak Joko Santoso, S.Pd., menyampaikan bahwa outing class ini tidak hanya bertujuan sebagai sarana rekreasi, namun juga untuk menambah wawasan serta membangun kedekatan emosional antar siswa dan guru. "Melalui kunjungan ke tempat-tempat bersejarah seperti Taman Pintar dan Candi Prambanan, kami berharap para siswa dapat belajar dengan cara yang menyenangkan dan lebih memahami kekayaan budaya bangsa," ujar beliau.


Para peserta didik terlihat sangat antusias dan gembira karena mendapatkan pengalaman berharga naik kereta api. Bagi sebagian besar dari mereka, ini adalah kali pertama mereka naik kereta, sehingga suasana penuh keceriaan terasa sejak keberangkatan dari Stasiun Ngawi.

Salah seorang siswa kelas 4, Lantip, mengungkapkan kegembiraannya, "Aku senang sekali bisa naik kereta api bersama teman-teman! Selama perjalanan, kami bisa melihat pemandangan yang indah, dan rasanya seru sekali berbeda dari naik kendaraan lain."


Pengalaman naik kereta api ini bukan hanya menjadi momen yang menyenangkan, tetapi juga menjadi pelajaran bagi siswa untuk mengenal moda transportasi umum, merasakan perjalanan bersama, serta mempererat kebersamaan.

Para wali murid juga mendukung penuh kegiatan outing class ini. Banyak dari mereka merasa kegiatan ini memberikan manfaat positif bagi anak-anak mereka, baik dalam hal pengetahuan maupun pengembangan karakter. Beberapa wali murid menyatakan bahwa perjalanan ini adalah kesempatan langka bagi anak-anak untuk belajar secara langsung di lapangan, mengamati hal-hal yang biasanya hanya dipelajari di buku.

Salah satu wali murid, Bapak Slamet, mengungkapkan, "Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini karena anak-anak bisa belajar dengan cara yang menyenangkan, mengenal sejarah dan budaya Indonesia secara langsung. Mereka juga belajar mandiri, tanggung jawab, dan bekerja sama dengan teman-teman."

Selain itu, para wali murid juga mengapresiasi pihak sekolah yang telah merencanakan kegiatan dengan baik, termasuk menyediakan fasilitas transportasi yang nyaman dan aman. Keterlibatan aktif wali murid dalam kegiatan ini menunjukkan sinergi antara pihak sekolah dan orang tua untuk mendukung proses belajar yang lebih variatif dan bermakna bagi anak-anak.

Kegiatan ini diharapkan mampu meninggalkan kesan mendalam bagi para siswa, memberikan pengalaman belajar langsung di luar kelas, serta memupuk kecintaan terhadap sejarah dan budaya Indonesia.

Sabtu, 02 November 2024

Kajian "Managemen Hati dan Lisan" Bersama DR. H. Khoiruddin Bashori, M.S.I,


Ngawi – Kajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ngawi kembali digelar dengan menghadirkan Dr. H. Khoirudin Bashori, M.S.I, seorang pakar dari LP2M Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dengan tema "Manajemen Hati dan Lisan," kajian yang dilaksanakan pada Ahad pagi ini berhasil menarik perhatian jamaah yang hadir.

Dalam Kajiannya Dr. H. Khoiruddin Bashori, M.S.I, menyampaikan materi "Manajemen Hati dan Lisan" mengacu pada pentingnya mengelola pikiran dan ucapan kita dalam konteks QS. Al-Fathir: 32, beliau menyampaikan bahwa manusia terbagi menjadi tiga kelas, yaitu:

1. Kelas Terendah (dzalimul li nafsih)

Kelompok terendah dari pewaris Al-Qur'an dalam surat Al Fatir ayat 32 disebut sebagai dzalimul li nafsih. Kelompok dzalimul li nafsih dijelaskan oleh DR. Khoiruddin Bashori, M.S.I, dalam kajian tersebut yakni orang yang suka mengeluh/Sambat dan suka komentar, serta sering emosi/marah.

2. Kelas Pertengahan (muqtashid)

Kelompok pertengahan dari pewaris Al-Qur'an dikatakan sebagai muqtashid. Lebih lanjut beliau memberi contoh orang yang suka ngaji. Ciri orang yang suka ngaji memiliki sifat sabar, menahan diri dari perbuatan yang tidak baik.

Artinya, orang tersebut telah mengerjakan segala kewajiban sekaligus meninggalkan larangan-larangannya. Akan tetapi, terkadang seorang muqtashid tidak mengerjakan perbuatan yang dikatakan sunnah atau masih mengerjakan sebagian pekerjaan yang dikatakan makruh.

3. Kelas Terdepan (sabiqum bil khairat)

Kelompok terdepan yang menjadi pewaris Al-Qur'an disebut sebagai sabiqum bil khairat. Masih dalam sumber yang sama, sabiqum bil khairat dijelaskan sebagai golongan orang-orang yang beriman kepada Al-Qur'an.

Kelompok inilah yang dikatakan sebagai 'Ahlul Qur'an.' Mereka begitu sering membaca Al-Qur'an, menghafalkan seluruh isinya, dan dapat mengamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari. Ciri-cirinya orang yang selalu mensyukuri ujian/permasalahan hidupnya, Apapun kesulitannya dihadapi dengan senyuman.

Di akhir kajian beliau mengajak para jama'ah untuk hijrah hati, menata rasa. Karena "rasa" tergantung yang punya hati dan cara pandangnya. Sehingga ketika kita sudah masuk ke kelas 3 sabiqum bil khairat, maka kita mudah untuk menata hati dan rasa.

Dengan adanya kajian ini, diharapkan para jamaah semakin termotivasi untuk mempraktikkan manajemen hati dan lisan yang baik, sehingga mampu menciptakan harmoni dan kedamaian di tengah masyarakat.

Sabtu, 19 Oktober 2024

Ahammiatut Tarbiyah - Ust. Drs. Ali Nurhidayat, M.Ag KAP PCM Ngawi


Ngawi – Pada Ahad, 20 Oktober 2024, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngawi menggelar Kajian Ahad Pagi yang kali ini menghadirkan Ust. Drs. Ali Nurhidayat, M.Ag sebagai penceramah. Tema yang diangkat adalah "Ahammiatut Tarbiyah" atau pentingnya pendidikan dalam Islam, dengan pembahasan yang dikaitkan dengan contoh dari para Khulafaur Rasyidin, yaitu para khalifah yang mengikuti jejak Rasulullah SAW.

Dalam mukadimahnya, Ust. Ali Nurhidayat mengawali dengan kisah inspiratif dari Khulafaur Rasyidin—Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib—yang menjadi teladan dalam mendidik generasi Muslim. Beliau menekankan bagaimana keempat khalifah ini tidak hanya unggul dalam kepemimpinan politik, tetapi juga dalam membentuk karakter masyarakat melalui tarbiyah yang berlandaskan akhlak mulia.

"Para Khulafaur Rasyidin menjadi contoh terbaik dalam pendidikan moral dan spiritual. Mereka tidak hanya memimpin umat, tetapi juga mendidik mereka dengan nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan kasih sayang. Inilah tarbiyah yang sejati, yang harus kita warisi dan terapkan dalam kehidupan kita, terutama dalam mendidik anak-anak kita," ujar Ust. Ali.

Beliau melanjutkan, bahwa pendidikan yang diberikan oleh para Khulafaur Rasyidin kepada masyarakat pada masanya berfokus pada penguatan iman dan penegakan keadilan. Abu Bakar dikenal dengan kelembutannya dalam mengajarkan keimanan, sementara Umar bin Khattab adalah contoh pemimpin yang tegas dalam menerapkan keadilan. Utsman bin Affan memberikan teladan dalam kedermawanan, dan Ali bin Abi Thalib dikenal dengan kebijaksanaan serta ilmunya yang mendalam.

Setelah menyampaikan mukadimah, Ust. Ali kemudian menghubungkan teladan dari para Khulafaur Rasyidin dengan situasi kekinian, termasuk kasus viral anak SMP yang tidur di kuburan saat jam pelajaran. Menurutnya, fenomena ini menunjukkan kurangnya pendidikan karakter yang seimbang dengan pendidikan formal. Tarbiyah yang diberikan oleh keluarga dan sekolah harus mengutamakan pembentukan akhlak, sebagaimana yang dicontohkan oleh para khalifah.

Beliau dalam menyampaikan materi, sangat mudah dipahami oleh jamaah. Kajian ini diakhiri dengan pesan agar masyarakat, khususnya orang tua dan pendidik, menjadikan fisik, akal dan hati sebagai satu kesatuan dalam memberikan pendidikan yang holistik—pendidikan yang tidak hanya mencakup ilmu dunia, tetapi juga nilai-nilai moral dan spiritual yang kokoh.

Minggu, 06 Oktober 2024

Khutbah Jum'at: Bumi, Manusia, dan Kebesaran Tuhan


Oleh: Sidik Saiful Anwar


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا


Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan, ketakwaan kita kepada Allah SwT dengan senantiasa beribadah kepada-Nya. Dan juga selalu meningkatkan intensitas amal salih kita setiap harinya. Dalam situasi apapun kita tetap bersyukur kepada Allah SwT. Dan marilah kita selalu meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita secara berkualitas dalam menjalankan perintah dan  menjauhi larangan-Nya.

Salah satu perkara penting yang yang dibahas dalam Al-Qur’an adalah tentang alam semesta termasuk di dalamya adalah bumi tempat kita tinggal. Alam Semesta sering disebut dalam berbagai ayat Al-Qur’an sebagai bukti kebesaran-Nya. Sehingga kita sebagai umat Islam harus mengimani kebesaran Allah SwT sebagai pencipta alam semesta ini, dengan segala kesempurnaa-Nya yang dibarengi tanda-tanda kekuasaan-Nya. Ketika datang siang maka tidak lupa pula menyusul malam, ketika datang kemarau tidak lupa pula datang hujan. Maka terdapat banyak sekali tanda-tanda dari penciptaan alam semesta oleh Allah SwT. Diantara tanda-Nya yaitu,

Pertama, alam semesta sebagai wujud yang benar dan nyata. Hal ini harus dipahami dengan hati yang mantap. Dalam Al-Qur’an dijelaskan alam semesta sebagai sesuatu yang haq, sebagai sesuatu yang benar serta nyata dan tidaklah Allah SwT menciptakan alam ini sebagai sesuatu yang main-main atau palsu (bathil). Jika kita sebagai umat manusia menganggap alam semesta ini sebagai hal yang diciptakan secara main-main maka akan memberikan pandangan bahwa pengalaman kehidupan di dunia ini juga bersifat palsu dan bukan nyata, sehingga tidak ada pikiran tentang tanggung jawab kepada Allah SwT atas kehidupan di dunia ini.

Kedua, alam semesta sarana mencari ibrah dan hikmah. Jagat raya yang diciptakan Allah SwT sebagai ayat-ayat yang menjadi sumber pelajaran bagi manusia. Sebagaimana tanda-tandanya yaitu keserasian, keharmonisan, dan ketertiban alam semesta. Dengan ini memberikan  makna bahwa alam semesta diciptakan dengan benar (haq) tidak dengan palsu (bathil) atau kebetulan belaka. Sebagai sesuatu yang baik lagi serasi alam raya juga harus diyakini diciptakannya penuh maksud dan tujuan yang menunjukkan kebesaran sang Maha Pencipta Allah SwT. Dilukiskan dalam kitab suci Al-Qur’an yang menyadari alam raya sebagai ayat-ayat Tuhan sebagai berikut

اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِ  الَّذِيۡنَ يَذۡكُرُوۡنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوۡدًا وَّعَلٰى جُنُوۡبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُوۡنَ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ​ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ‏ ‏

“sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi (alam semesta) pastilah terdapat ayat-ayat bagi mereka yang berakal budi. Yaitu mereka yang selalu ingat kepada Allah SWT, baik pada saat berdiri, saat duduk, mau pun saat berbaring, dan memikirkan kejadian seluruh langit dan bumi, (seraya berkata), “ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini semua secara batil. Mahasuci Engkau. Maka lindungilah kami dari azab neraka”. (Q.S, Ali Imran/3 :190-191).

Jamaah Jum’at Rahimakumullah

Yang ketiga, yaitu alam semesta ditundukkan bagi manusia. Allah SwT menciptakan manusia sebagai puncak ciptaan-Nya sehingga seluruh alam berada dalam martabat yang lebih rendah dari pada manusia. Dengan begitu manusia berhak memanfaatkan alam dengan sebaik-baiknya tanpa menimbulkan kerusakan, serta menjadikan alam raya ini sebagai obyek kajian terbuka bagi manusia. 

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ  

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar (Qs ar-Rum ayat 41).

Atas dasar inilah malaikat agak keberatan tentang penunjukkan manusi sebagai khalifah di bumi.

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ  

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" (Qs al-Baqarah ayat 30).

Merusakknya (alam) jelas tidak dibolehkan. Namun terlalu mengagungkannya juga tidak dibenarkan makakala itu justru melahirkan kesyirikan.

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ 

“Dan Dia (Allah) merendahkan bagi kamu semua apa yang ada diseluruh langit dan apa yang ada di bumi, seluruhnya dari Dia. Sesungguhnya dalam hal itu ada tanda-tanda bagi mereka yang berpikir” (Q.S, al-Jatsiyah/45 : 13)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ، وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Khutbah Kedua


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، اَللَّهُمَّ لَا تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا اِلَّا غَفَرْتَهُ وَلَا عَيْبًا اِلَّا سَتَرْتَهُ وَلَا هَمًّا اِلَّا فَرَجْتَهُ وَلَا ضَرًّا اِلَّا كَشَفْتَهُ وَلَا دَيْنًا اِلَّا أَدَيْتَهُ وَلَا حَجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَالْأَخِرَةِ اِلَّا قَضَيْتَهَا وَلَا مَرِيْضًا اِلَّا شَفَيْتَهُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
عِبَادَ الله إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وِالْإِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Sidik Saiful Anwar, Kader Muhammadiyah Lampung

Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Khutbah Jum'at: Bumi, Manusia, dan Kebesaran Tuhan, https://www.suaramuhammadiyah.id/read/khutbah-jum-at-bumi-manusia-dan-kebesaran-tuhan

Selepas Mengisi KAP, Prof. Dr. Biyanto, M.Ag. Meninjau Pembangunan Islamic Center Muhammadiyah (ICM) Ngawi


Kajian Ahad pagi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ngawi bersama Prof. Dr. Biyanto, M.Ag., mengangkat tema "Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah." Tema ini sangat relevan bagi warga Muhammadiyah, karena "Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah" (PHIWM) merupakan panduan yang dirancang untuk membantu anggota Muhammadiyah mengarahkan kehidupan mereka sesuai dengan nilai-nilai Islam dalam berbagai aspek kehidupan.

Pedoman ini mencakup berbagai hal seperti akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah dalam perspektif Muhammadiyah, yang mengedepankan pendekatan Islam yang berkemajuan. Dalam kajian ini, Prof. Dr. Biyanto, yang juga dikenal sebagai pakar dalam bidang studi agama dan tokoh di Muhammadiyah, mengulas bagaimana pedoman tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, serta bagaimana warga Muhammadiyah dapat menjaga integritas dan konsistensi beragama di tengah tantangan modernitas.



Kajian Ahad pagi yang dilaksanakan pada 6 Oktober 2024 oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ngawi tersebut, mendapatkan antusiasme tinggi dari warga Muhammadiyah se-Kabupaten Ngawi. Kehadiran warga Muhammadiyah dari berbagai Cabang Muhammadiyah se-kabupaten menunjukkan semangat untuk memperdalam pemahaman terhadap "Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah" (PHIWM), yang menjadi tema utama kajian tersebut.

Acara ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi bagi warga Muhammadiyah, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat pemahaman keislaman dan mengukuhkan semangat berorganisasi dalam menjalankan visi Islam berkemajuan. Kajian tersebut kemungkinan besar berisi paparan mengenai bagaimana warga Muhammadiyah bisa menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam dalam konteks sosial, ekonomi, dan politik di era modern.



Dengan kehadiran Prof. Dr. Biyanto, seorang tokoh Muhammadiyah dan pakar dalam studi agama, acara ini memberikan kesempatan berharga bagi warga Muhammadiyah untuk mendalami lebih jauh tentang pedoman hidup Islami yang relevan dalam menghadapi tantangan zaman.

Setelah mengisi Kajian Ahad Pagi (KAP) pada 6 Oktober 2024, Prof. Dr. Biyanto, M.Ag., yang juga menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, melakukan peninjauan terhadap pembangunan Islamic Center Muhammadiyah (ICM) di Ngawi. Peninjauan ini merupakan bagian dari komitmen Muhammadiyah dalam memperkuat infrastruktur pusat keislaman di wilayah tersebut.

Pembangunan ICM Ngawi diharapkan menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial yang berkontribusi terhadap pengembangan masyarakat Islami di Ngawi serta sekitarnya, sekaligus menjadi simbol kemajuan Muhammadiyah dalam bidang dakwah berkemajuan.

Sabtu, 05 Oktober 2024

Khutbah Jum'at: Tiga Besaran Nikmat Allah


Khutbah Jum'at: Tiga Besaran Nikmat Allah
Oleh: Ismet Pahlevi
Guru Agama dan Mubhalig Muhammadiyah Kepulauan Anambas

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَعْطَىنَا بِالصَّبْرِ وَالشُّكْرِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الصَّبُوْرُ الشَّكُوْرُ وَأَشْهَدُ اَنَّ حَبِيْبَنَا وَ نَبِيَّنّا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَخْرَجَنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّوْرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Alhamdulillah, kita bersyukur ke khadirat AllahSWT. yang dengan izin-Nya jualah, sehingga dapatlah kita pada siang ini kembali menunaikan fardhu Jum’at, sebagai salah satu wujud nyata dari taqwa kita kepada Allah SWT.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Sudah tidak dapat kita pungkiri, bahwa dalam kehidupan ini, kita selalu menerima ni’mat Allah yang melimpah ruah. Karena saking banyaknya, tidak ada satu mesin atau teknologi secanggih apapun yang mampu mencatat berapa banyak ni’mat Allah tersebut.

Sehingga jika seandainya ranting-ranting kayu yang ada di permukaan bumi ini di jadikan pena, dan seluruh lauatan yang luas dan dalam ini, dijadikan tinta, untuk menuliskan ni’matni’mat Allah, niscaya ranting-rangting kayu itu akan hancur atau musnah dan lautan itu akan kering, namun ni’mat-ni’mat Allah masih banyak yang belum tertuliskan.

Dalam hubungan ini, maka wajarlah kiranya, jika Allah SWT. Menantang kita dan mempersilakan kepada kita, kalau memang kita mau dan mampu melakukan penghitungan terhadap ni’mat-ni’mat Allah tersebut. Namun pasti, kata Allah, sekali lagi pasti, kita tidak akan mampu untuk menghitungnya.

Firman Allah dalam Al-Qur’an :
وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ ࣖ

“Dan jika sekiranya kamu ingin menghitung- hitung ni’mat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu untuk menghitungnya” (QS. Ibrahim ayat 34).

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah.

Walaupun ada sebuah hadits Rasulullah SAW. yang menyatakan :
“Sesungguhnya Allah memiliki seratus ni’mat (rahmat). Satu ni’mat diantaranya telah diturunkan Allah dan dibagi-bagikan Nya kepada jin, manusia dan binatang. Dengan ni’mat yang satu tersebut, maka semua makhluk akan saling sayang menyayangi dan kasih mengasihi. Dengan ni’mat yang satu itu pulalah, seekor keledailiar mengasihi anaknya. Adapun ni’mat (rahmat) yang lainnya (99) itu, digunakan Allah untuk mengasihi hamba-Nya di akhirat (pada hari kiamat) kelak”.

Memang, kalau dilihat dari segiprosentasi, kelihatannya sangat sedikit.Dari 100 ni’mat yang dimiliki Allah, hanya 1 ni’mat yang diperuntukkan-Nya bagi makhluk di dunia ini. Sementara yang 99 ni’mat lainnya, Allah persiapkan untuk makhluk-Nya yang hidup di akhirat kelak.

Sepertinya ini tidak sebanding. Memang kalau dilihat dari segi pembagiannya jelas tidak seimbang. Namun, kalau kita lihat dan rasakan dari segi nilainya, tentu tidak dapat kita bayangkan betapa besarnya. Walaupun ni’mat yang diturunkan Allah ke dunia ini hanya 1% saja, akan tetapi bagi ukuran kita, atau bagi ukuran duniawi, sudah merupakan ni’mat yang sangat banyak, karena dari satu sumber ni’mat inilah terpancar ni’matni’mat lainnya yang beraneka ragam jenis dan macamnya dan sangat banyak jumlahnya, sehingga wajar jika tak seorangpun diantara kita yang mampu untuk menghitungnya.

Ma’asyiral Muslimin Sidang Jum’at yang berbahagia
Kendatipun ni’mat Allah itu sangat banyak. Namun para ulama sepakat untuk mengelompokkan ni’mat Allah ini ke dalam tiga kelompok besar. Kelompok besar yang pertama adalah ni’mat hidup dan kehidupan. Ni’mat ini diberikan oleh Allah SWT.

Kepada seluruh makhluk-Nya, tanpa terkecuali. Tidak saja kepada manusia, tetapi binatang dan tumbuh-tumbuhan pun juga diberikan nikmat ini. Bahkan kepada malaikat dan jin, termasuksi durjana iblis dan syetan, semuanya diberikan ni’mat hidup dan kehidupan olehAllah SWT.

Muslimin rahimakumullah
Tahukah kita, bahwa yang menyebabkankita bisa hidup di permukaan bumi ini, dikarenakan bumi ini berputar. Dalamsatu kali putaran memakan waktu 24 jam atau satu hari. Bagi belahan bumi yang menghadap matahari, maka di sana terjadi siang. Sebaliknya, bagi belahan bumi yang membelakangi matahari, maka di sana terjadi malam.

Demikian seterusnya silih berganti, hingga hari kiamat nanti. Dengan berputarnya bumi, maka terjadilah siang dan malam. Di sinilah sebenarnya rahasia kehidupan kita. Dengan perputaran bumi inilah, kita bisa hidup dipermukaan bumi ini. Coba kalau kita bayangkan, bagaimana dan apa yang terjadi jika sekiranya bumi kita ini tidak berputar?

Ma’asyiral Muslimin Sidang Jum’at yang berbahagia
Seandainya bumi ini tidak berputar, berarti ada belahan bumi yang mengalami siang terus-terusan dan ada belahan bumi yang mengalami malam terus-terusan.

Bagi belahan bumi yang mengalami siang terus-terusan, maka menurut prakiraan para ahli, bahwa dalam jangka waktu 100 jam saja, maka suhu udara yang ada di permukaan bumi tersebut akan mencapai 100 derajat celsius.

Ini berarti seluruh zat cair, baik itu air laut, air sungai, air danau air kali, air sumur dan sebagainya, semuanya akan mendidih, Bahkan persediaanair yang ada dalam tubuh kita, termasuk darah kita, karena darah juga merupakan zat cair, juga ikut mendidih. Kalau sudah demikian keadaannya, maka sudah dapat dipastikan, tidak akan ada kehidupan di permukaan bumi ini, bahkan lama kelamaan bumi ini hangus dan hancur lebur jadi debu.

Sebaliknya, bagi belahan bumi yang mengalami malam terus terusan, maka menurut prakiraan para ahli, bahwa dalam jangka waktu 100 jam saja, maka suhu udara yang ada di permukaan bumi tersebut menjadi 0 derajat celcius. Ini berarti seluruh benda cair akan menjadi beku. Maka kalau sudah demikian keadaannya, maka sudah dapat dipastikan, tidak akan ada kehidupan dipermukaan bumi ini.

Begitulah, dengan Rahman dan Rahim-Nya, Allah SWT. telah menjadikan bumi ini berputar, sehingga terjadilah siang dan malam secara silih berganti, yang karenanya maka suhu udara yang ada di permukaan bumi akan selalu stabil atau konstan, tidak terlalu panas, tidak pula terlalu dingin.

Cukup banyak ayat Al-Qur’an memberikan pernyataan, betapa ke Mahabesaran Allah SWT. yang dengan kuasa- Nya telah menciptakan langit dan bumi serta mengatur silih bergantinya siang dan malam. Allah berfirman

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (Qs. Ali Imran : 190).

Besaran ni’mat yang ke dua adalah ni’mat kebebasan berpikir atau kemerdekaan. Dengan ni’mat kebebasan berpikiratau kemerdekaan ini, manusia dipersilakan oleh Allah untuk memilih apa saja yang ia mau. Ketika ia sedang haus, di sebelahnya tersedia air teh manis, air susu, air kopi, air es dan sebagainya, tentu ia bebas memilih yang mana yang ia suka.

Demikian juga dalam kehidupan beragama, Allah dengan jelas dan tegas telah memberikan petunjuk-Nya kepada kita manusia, melalui Al-Qur’an dan Sunnah. baik mengenai perintah atau kewajiban yang harus dijalankan maupunberbagai larangan yang harus dihindarkan.

Namun Allah sama sekali tidak memaksa kita, mau dilaksanakan kewajiban itu, atau tidak. Mau dilanggar atau dipatuhi larangan itu, Allah tidak perduli. Yang jelas, Allah sudah memberikan garisan- garisan-Nya yang tegas dan jelas, yang kesemuanya tentu ada risiko atau konsekuensinya.

Demikianlah, memang kebebasan memilih selalu diiringi dengan penghargaan atau hukuman. Bagi yang rajin menjalankan perintah-Nya dan selalu menjauhi larangan-Nya, maka ia akan diberikan penghargaan oleh Allah berupa pahala sorga. Sebaliknya, bagi yang malas mejalankan perintah-Nya dan tidak mengindahkan larangan-Nya, maka ia akan diberikan hukuman berupa siksa neraka.

Ma’asyiral Muslimin Sidang Jum’at yang berbahagia
Besaran ni’mat yang ketiga, atau ni’mat yang terakhir adalah ni’mat hidayah atau ni’mat Iman dan Islam. Berkaitan dengan ni’’mat ini Allah berfirman .

۞ سَيَقُوْلُ السُّفَهَاۤءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلّٰىهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِيْ كَانُوْا عَلَيْهَا ۗ قُلْ لِّلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُۗ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus (QS. Al- Baqarah: 142).

Hidayah adalah mutlak milik Allah. Wewenang sepenuhnya ada di tangan- Nya. Rasulullah sendiri tidak diberikan hak oleh Allah SWT. untuk memberikan hidayah kepada orang lain, sekalipun kepada keluarga, sahabat atau orang yang beliau cintai.

Sebagai contoh, seperti Abu Thalib, paman Nabi. Beliau adalah orang yang sangat mencintai Rasulullah. Beliau adalah orang yang sangat berjasa terhadap keberadaan Islam dan kaum Muslimin di masa Rasulullah.

Beliau adalah orang yang setiap saat menyaksikan betapa kemuliaan, kejujuran dan keindahan budi pekerti Rasulullah. Beliau adalah orang yang senantiasa menyaksikan betapa kebesaran mu’jizat Rasulullah. Namun apa hendak dikata, ternyata di akhir hayat beliau, paman Nabi yang bernama Abu Thalib ini, tidak sempat mengucapkan dua kalimat syahadat.

Kenapa? karena tidak mendapat hidayah Allah SWT. Padahal sebelumnya Rasulullah SAW. sudah berusaha sebisa-bisanya membujuk dan membimbing beliau, namun malah justeru tidak dihiraukan oleh beliau.

Melihat keadaan pamannya yang sedemikian ini, tak dapat dielakkan lagi, berlinanglah air mata beliau, Rasulullah benar-benar sedih hatinya, sehingga terucaplah permohonan sekaligus pengaduan beliau untuk meminta pertimbangan Allah terhadap keadaan pamannya ini. Namun justeru pengaduan Rasulullah tersebut mendapat teguran keras dari Allah SWT.

Karena itu Rasulullah menyadari akan kelemahan dirinya di hadapan Allah SWT. Beliau tidak bisa berbuat banyak tanpa izin Allah, tanpa kehendak Allah. Dan Allah Maha Tahu serta Maha Bijaksana terhadap apa yang menjadi keputusan-Nya kendati menurut kacamata manusia mungkin dirasa kurang adil.

Beruntunglah kita saat ini, karena telah ditakdirkan Allah menjadi orangorang yang dianugerahi ni’mat Hidayah atau ni’mat Iman dan Islam, sebab tidak semua orang dapat memperolehnya. Lagi pula, Rasulullah dalam sebuah hadits beliau pernah bersabda, kata beliau : “Sangat berbahagia sekali, orang yang pernah bertemu dengan aku, kemudian ia beriman”. Akan tetapi justeru Nabi mengulanginya sampai tiga kali, kata beliau : “Lebih berbahagia lagi, lebih berbahagia lagi, lebih berbahagia lagi, orang yang tak pernah bertemu dengan aku, namun ia beriman, ia percaya”

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم


Khutbah Kedua


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ
أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
أَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا
رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

Senin, 29 Juli 2024

Strategi Muhammadiyah Terima Izin Tambang Untuk Menolaknya - Oleh Asyari Usman *

Tidak mungkin Muhammadiyah mau menerima tawaran Izin Usaha Pertambangan (IUP) dari Presiden Jokowi. Tetapi, mengapa itu terjadi beberapa hari yang lalu? Mengapa akhirnya ormas yang selalu dinilai keren itu menerima juga?

Kita perlu banting stir melihat keputusan Muhammadiyah meneima IUP itu. Di permukaan, tidak banyak yang memahami mengapa PP Muhammadiyah menerima. Reaksi natural publik adalah menyesalkan, mencela sampai mencerca.



Reaksi yang tidak setuju itu lumrah sekali. Begitulah pemikiran dan kesimpulan linier publik. Reaksi hitam-putih seperti itu wajar sekali.

Padahal, penyataan terbaru Muhammadiyah menerima IUP seharusnya dibaca dengan kamus diplomasi. Bahwa Muhammadiyah menerima IUP yang ditawarkan tersebut untuk menghimpun penolakan yang meluas dari pengurus Muhammadiyah di daerah-daerah.

Penolakan yang masif inilah nanti yang dikedepankan oleh PP Muhammadiyah. Sehingga para petinggi pusat bisa dengan mudah mengatakan bahwa warga Muhammadiyah tidak berkenan menerima IUP. Karena itu kami terpaksa menolak.

Selama ini, penolakan pertama dipandang oleh pemerintah sebagai sikap politik pimpinan Muhammadiyah saja. Ini berbahaya bagi ormas yang terkenal selalu aklamasi, demokratis, dan taat pimpinan itu.

Dalam beberapa hari ini pernyataan menerima IUP telah memancing reaksi negatif. Dan di hari-hari ke depan nanti akan lebih keras lagi penolakan itu.

Inilah yang sedang ditunggu pimpinan Muhammadiyah. Mereka kemudian bisa dengan enteng mengatakan kepada semua pihak, khususnya pemerintah, bahwa seluruh komponen Muhammadiyah menolak IUP.

Mengapa Muhammadiyah perlu menolak dengan cara diplomatis? Pertama, bisa jadi ada tekanan politis yang hanya pimpinan Muhammadiyah saja yang tahu. Sangat mungkin para petinggi menginginkan agar kebijakan pemberian IUP kepada ormas itu tidak gagal total karena hanya satu ormas saja yang menerima. Dan ormas itu sekarang menjadi bulan-bulanan publik, sendirian tanpa teman.

Kedua, Muhammadiyah ingin memberikan kesempatan kepada seluruh unsur internal untuk menyampaikan aspirasi mereka tentang IUP. Tentag buruk-baiknya. Pimpinan pusat sudah memprediksi penolak luas.

Kita berharap semoga uraian di dalam tulisan ini menjadi kenyataan. Sebab, kalau Muhamamdiyah benar-benar menerima IUP dan melaksanakannya, maka bersiap-siaplah warga Muhammadiyah untuk melihat fatalitas terburuk dalam sejarah kemaslahatan yang telah mereka bangun puluhan tahun.[]

28 Juli 2024
(Jurnalis Senior Freedom News)

Minggu, 21 Juli 2024

Ketika Seratus Dikurang Satu Sama Dengan Nol - Esai Kusfandiari MM Abu Nidhat


Terdapat belasan uraian Teori 100-1 = 0 baik berupa artikel maupun video yang ditayangkan di jagad maya yang sempat dilihat sekilas oleh Guru Galib. Salah satu di antaranya artikel yang disampaikan oleh Pak Sae’an, Guru MAN 1 Banjarnegara di https://man1banjarnegara.sch.id/berita-203-teori-100--1--0.html sebagai berikut (telah mengalami penyuntingan) :

Seorang guru menulis soal matematika dan jawabannya di papan tulis di depan kelas :

2 + 2 = 4
4 = 4 = 8
8 + 8 = 16
9 + 9 = 19

Begitu guru selesai menulis, tiba-tiba para murid serempak menertawakan dan berkata :
"Salah!... Salah!"

Guru membiarkan kelas gaduh untuk sementara waktu.
Setelah semua tenang, sang guru berkata :

“Anak-anak, saya memang bukan Guru Matematika. Saya tahu bahwa ini salah! Cuma saya ingin kalian belajar . Bukan hanya belajar menemukan jawaban benar. Bukan hanya belajar menemukan jawaban salah. Mari kita belajar sesuatu yang berbeda pada kesempatan ini. Kalian menertawakan karena kalian tahu ada yang tidak benar. Kalian benar bahwa ada satu kesalahan yang saya buat. Tetapi ada tiga jawaban saya yang benar, mengapa tidak ada yang memuji saya? Mengapa tidak ada yang membela saya, dan hal ini disebabkan oleh karena kalian hanya melihat satu kesalahan saja.

Anak-anak, hal apa yang bisa kita ambil pelajaran dari perjumpaan kita kali ini? Ialah apa yang baru saja kita alami merupakan salah satu di antara sekian banyak hal yang sama berlaku atas hidup kita sehari-hari.

Orang lain melakukan seratus kali kebaikan, tetapi ada satu masalah yang ia lakukan saja yang membuat kalian tidak berkenan di hati, maka kalian langsung mengabaikan "Seratus Kebaikan” yang lalu semuanya kalian lupakan. Inilah yang kita sebut “TEORI 100 – 1 = 0“.

Kita pernah mendengar pepatah : “Panas setahun dihapuskan oleh hujan sehari". Masih ingat artinya apa? Artinya “Segala kebaikan selama setahun dihapuskan oleh keburukan selama sehari“. Hal yang menyedihkan bahwa mungkin setiap kita hanya sibuk melihat kesalahan orang lain dan merasa diri sendiri yang paling benar. Apalagi kita kaitkan dengan peribahasa “Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang pantai nampak jelas “ yang artinya : kesalahan diri sendiri tidak terlihat, tetapi kesalahan oran lain telihat jelas.

Melakukan kesalahan itu adalah manusiawi. Masalahnya adalah mengapa sikap kita cenderung melihat atau mencari kesalahan orang lain, lalu menghakiminya? Seharusnya kita menjadikan sebagai pelajaran dan tempat kita untuk bercermin agar kita tidak melakukan hal yang sama.

Tidak jarang diam-diam kita bersorak-sorai saat melihat kesalahan orang lain sebab hal itu bisa dijadikan bahan candaan atau perundungan. Apalagi ia tidak kita sukai, kita pikir ini adalah kesempatan untuk menjelek-jelekannya dan bersyukur atas kesalahan yang ia lakukan.

Tentu sikap tak terpuji ini harus kita hindari. Dalam etika kehidupan, kita harus belajar mengingat kebaikan orang lain. Jangan sampai kita fokus kepada kesalahan kecil lalu kita mengabaikan seluruh kebaikannya.

Ingatlah bahwa setiap orang mempunyai kelemahan dan kekurangannya sendiri! Jangan sampai kita dengan mudah menghakimi kelemahan atau kekurangan orang lain! Kita juga bukan manusia sempurna! Kita tidak usah memikirkan kekurangan orang lain. Kita harus sering memikirkan kebaikan orang lain dan dan bersyukur atas kebaikannya, maka hidup kita akan menjadi lebih baik, indah dan harmonis,” ujar guru kepada para murid.

Teman Literat yang dimuliakan Allah.
Dalam kehidupan berkeluarga juga demikian, kalau kita selalu mengingat-ingat kebaikan dari pasangan kita, maka keharmonisan memenuhi pernikahan dan keluarga kita.

Ingatlah kebaikan orang selagi masih hidup dan sayangah, kasihanilah, jangan kita baru mengingatnya orangnya sudah tidak ada. Ada baiknya kita perhatikan lirik lagu “Kehilangan” ciptaan Rhoma Irama, sebagai berikut.

Kehilangan
Artis : Rhoma Irama.

 G       F               Am 
Kalau sudah tiada baru terasa
 G       F                      Am 
Bahwa kehadirannya sungguh berharga 
 E                             F 
Sungguh berat aku rasa kehilangan dia 
 E                             F Am 
Sungguh berat aku rasa. Hidup tanpa dia
         G         F            Am 
Kalau sudah tiada baru terasa  
 G              F               Am 
Bahwa kehadirannya sungguh berharga 

Am D E Dm Am Dm Am-Am-Am Am   

G 
Kutahu rumus dunia semua harus berpisah 
F       G               Am   Dm Am 
Tetapi kumohon tangguhkan tangguhkanlah 
Am                                     G 
Bukan aku mengingkari apa yang harus terjadi 
F       G          Am Dm Am 
Tetapi ku mohon kuatkan kuatkanlah 
        G         F        Am 
Kalau sudah tiada baru terasa,
        G         F            Am 
Bahwa kehadiranya sungguh berharga 
        E                      F 
Sungguh berat aku rasa kehilangan dia 
        E                      F   Am 
Sungguh berat aku rasa hidup tanpa dia  
        G           F       Am 
Kalau sudah tiada..baru terasa    
        G          F              Am 
Bahwa kehadiranya...sungguh berharga 

Am D E Dm Am Dm Am-Am-Am 

Am                                G 
Ku tahu rumus dunia semua harus berpisah 
F        G              Am    Dm Am 
Tetapi kumohon tangguhkan tangguhkanlah 
Am                                G 
Bukan aku mengingkari apa yang harus terjadi 
F              G          Am Dm Am 
Tetapi ku mohon kuatkan kuatkanlah 
    G         F             Am 
Kalau sudah tiada baru terasa,
    G         F                Am 
Bahwa kehadiranya sungguh berharga 
    E                            F 
Sungguh berat aku rasa kehilangan dia 
    E                            F Am 
Sungguh berat aku rasa hidup tanpa dia 
    G        F                Am 
Kalau sudah tiada..baru terasa  
    G        F                    Am 
Bahwa kehadiranya...sungguh berharga
https://www.kompas.com/hype/read/2020/07/23/182000366/lirik-dan-chord-lagu-kehilangan-dari-rhoma-irama.

Murid Imam Syafi'i

Diriwayatkan bahwa Yunus bin Abdi Al-'Ala, berselisih pendapat dengan sang guru, yaitu Al-Imam Muhammad bin Idris As-Syafi'i (Imam Asy Syafi'i) saat beliau mengajar di Masjid.
Hal ini membuat Yunus bangkit dan meninggalkan majelis itu dalam keadaan marah..
Kala malam menjelang, Yunus mendengar pintu rumahnya diketuk ... Ia berkata: "Siapa di pintu?"
Orang yang mengetuk menjawab : "Muhammad bin Idris."
Seketika Yunus berusaha untuk mengingat semua orang yang ia kenal dengan nama itu, hingga ia yakin tidak ada siapapun yang bernama Muhammad bin Idris yang ia kenal, kecuali Imam Asy Syafi'i.
Saat ia membuka pintu, ia sangat terkejut dengan kedatangan sang guru besar, yaitu Imam Syafi'i.
Imam Syafi'i berkata : "Wahai Yunus, selama ini kita disatukan dalam ratusan masalah, apakah karena satu masalah saja kita harus berpisah..?
Janganlah engkau berusaha untuk menjadi pemenang dalam setiap perbedaan pendapat.
Terkadang, meraih hati orang lain itu lebih utama daripada meraih kemenangan atasnya..
Jangan pula engkau hancurkan jembatan yang telah kau bangun dan kau lewati di atasnya berulang kali, karena boleh jadi, kelak satu hari nanti engkau akan membutuhkannya kembali.."
"Berusahalah dalam hidup ini agar engkau selalu membenci perilaku orang yang salah, tetapi jangan pernah engkau membeci orang yang melakukan kesalahan itu.
Engkau harus marah saat melihat kemaksiatan, tetapi berlapang dadalah dan bimbinglah para pelaku kemaksiatan.
Engkau boleh mengkritik pendapat yang berbeda, namun tetap menghormati terhadap orang yang berbeda pendapat.
Karena tugas kita dalam kehidupan ini adalah menghilangkan penyakit, dan bukan membunuh orang yang sakit.."
Maka apabila ada orang yang datang meminta maaf kepadamu, maka segera maafkan.
Apabila ada orang yang tertimpa kesedihan, maka dengarkanlah keluhannya.
Apabila datang orang yang membutuhkan, maka penuhilah kebutuhannya sesuai dengan apa yang Allâh Ta'ala berikan kepadamu.
Apabila datang orang yang menasehatimu, maka berterimakasihlah atas nasehat yang ia sampaikan kepadamu.
Bahkan seandainya satu hari nanti engkau hanya menuai duri, tetaplah engkau untuk senantiasa menanam bunga.
Karena sesungguhnya balasan yang dijanjikan oleh Allâh yang Maha Pengasih lagi Dermawan jauh lebih baik dari balasan apapun yang mampu diberikan oleh manusia.."
Beliaupun menangis dan merangkul Sang Imam sembari mohon maaf dan berterima kasih atas nasihatnya.

Setidak-tidaknya ada empat hal yang tidak akan bisa kembali, yaitu : 1. waktu yang telah berlalu, 2. kata-kata yang telah diucapkan, 3. kesempatan yang telah dilewatkan, 4. kepercayaan setelah hilang. Mungkin di antara kita sudah bisa memperhatikan dan mengelola empat hal ini. Mungkin pula ada yang bisa menyelejuga saikan 3, 2, 1, atau bahkan sama sekali tidak bisa mengelola dengan sebaik-baiknya. Kemampuan masing-masing tidaklah sama. Kita tidak boleh menyalahkan seseorang yang tidak bisa memenuhi empat kriteria tersebut.

Di pengajian umum terbuka dalam beragam kesempatan ceramah atau tausiah.kalangan ulama sering menyampaikan :
ألإِنْسِانُ مَحَلُّ الخَّطَاء وَالنِّسْيَان

"Al-Insanu mahalu l-khata wa n-nisyan”
"Manusia tempat salah dan lupa"
Ucapan ini merupakan pepatah bahasa Arab yang populer
Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.
Insyâ Allâh kita semua akan dimuliakan oleh Allâh Ta'ala.

Allâhumma Shalli 'Alâ Sayyidinâ Muhammad, Wa 'Alâ Âli Sayyidinâ Muhammad Wallâhu A'lam Bisshawab

Yâ Allâh... Ampunilah dosa dan kesalahan Murrobi dan guru² kami. Ampunilah kedua orang tua kami, ampunilah kami, keluarga kami dan saudara² kami.
Yâ Allâh... Sehat dan sembuhkan saudara dan sahabat kami yang sakit. Jadikanlah sebaik-baik amal kami pada penutupannya.
Jadikan kami dan keluarga kami sehat dzohir dan bathin. Lindungilah kami dari berbagai penyakit, bencana dan kesulitan lainnya.
Yâ Allâh, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu petang. Dengan rahmat dan pertolongan Mu kami hidup dan dengan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk).
Yâ Allâh, aku memohon petunjuk pada-Mu dan kehormatan dan kekayaan serta beramal sesuai dengan apa yang Engkau cintai dan ridhai.
Yâ Allâh, aku memohon kekuatan dari-Mu karena kelemahan kami, kekayaan dari-Mu karena kefakiran dan kepapaan kami, dan kearifan dan ilmu dari-Mu karena kejahilan kami.
Yâ Allâh, sampaikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya dan bantulah kami supaya dapat bersyukur dan berzikir pada-Mu, dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih di antara yang mengasihi.
Jadikan kami, insan yang pandai bersyukur dan bisa membahagiakan orang lain.
Jadikan kami menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat. Jadikan negri ini menjadi lebih baik.

Pangkur-Ngawi, 18 Juli 2024 M / 12 Muharram 1446 H Pukul 05.24 WIB

Rabu, 17 Juli 2024

“Dzikir Hu”, Hu Itu Siapa? Esai Kusfandiari MM Abu Nidhat


Satu hadits menyebutkan :

وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُوْلُ : (( أَفْضَلُ الذِّكْرِ : لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ )) . رَوَاهُ التِّرْمِذِي ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ ))

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dzikir yang paling utama adalah laa ilaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah).” (Hadits Riwayat Tirmidzi, ia menyatakan bahwa hadits ini hasan) [Hadits Riwayat Tirmidzi, nomor 3383. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan].

Bagaimana halnya dengan “Dzikir Hu”?

Salah seorang pakar dzikir yang juga ahli thariqat memberikan penjelasan yang cukup panjang, sebagai berikut. “Lafadz الله ternyata memiliki keistimewaan ditinjau dari sisi hurufnya. Lafadz الله terdiri atas empat huruf, yakni alif (ا), lam (ل), lam (ل), dan ha (هـ). Tidak ada satupun yang sama dengan Allah, begitu juga tidak ada nama yang sama dengan Allah.

Lafadz الله kalau dibuang hurufnya dari depan, (maknanya) bertambah dekat dengan Allah. Kamu tidak akan dekat dengan Allah kalau tidak dibuang huruf alifnya (ا) menjadi لله (lillah/karena Allah). Bagaimanapun seseorang bisa masuk surga jika beramal dengan لله تعالى (lillahi ta’ala).

Lafadz لله (lillah) jika dihilangkan huruf lam (ل) yang pertama, akan menjadi له (lahu/hanya kepada Allah)”. Ini namanya Dhamīr Sya-an (ضمير الشأن), istilah orang mengaji. Dhamīr Sya-an ini (artinya) yang ada hanya Allah semata, selain itu tidak ada. Orang itu kalau sudah tahu Allah, maka tidak akan tahu kecuali hanya Allah.

Adapun lafadz له (lahu) jika huruf lam-nya (ل) dihilangkan, maka tersisa هـ (hu) yang bermakna tinggal Allah semata. Makanya dzikir orang yang sudah jadi Wali Allah bukan lafadz ‘Allah, Allah..’, tapi ‘Hu, Hu..’. Itulah Dhamīr Sya-an. Seluruh alam ini ada Asma (nama) yang menunjukkan jika dihilangkan huruf mulai awal akan bertambah dekat kepada Allah.

Lafadz ‘Hu, Hu..’ diucapkan dengan lisan. Jika dihilangkan ‘Hu’ tersebut, masuk ke dalam hati. Ini Namanya Dzikir Sirri. Kalau ‘Hu, Hu..’ dengan lisan masih Dzikir Jahri. Jadi dzikir kepada Allah ada yang Dzikir Sirri ada juga yang Dzikir Jahri.

Analisis

Nomina “Allah” (الله) tersusun dari empat huruf: alif (ا), lam (ل), lam (ل), dan ha (ه). Hamzah washal di atas alif (ٱ) pada artikel definitnya (ال) serta diakritik tambahan seperti syaddah (ّ ) dan alif khanjariyah (ــٰ) kadang dimunculkan untuk memudahkan pembacaan. Syaddah ditampilkan untuk menunjukkan bahwa huruf “lam” kedua (ل) mendapatkan tekanan lebih. Sementara itu, alif khanjariyah ditampilkan untuk menunjukkan bahwa setelah digandakan, lam kedua ini dipanjangkan pelafazannya. Dalam naskah-naskah Al-Qur’an modern, alif khanjariyah dapat dituliskan dengan dua gaya: 1) alif tegak dengan tambahan diakritik fathah; atau 2) alif tegak tanpa tambahan diakritik fathah. Alif khanjariah ( ألف_خنجرية) adalah tanda baca atau harakat yang dituliskan pada Abjad Arab sebagai diakritik atau pedoman pembacaan. Harakat ini memiliki makna bahwa huruf yang berharakat alif khanjariah harus dibaca mad fathah atau fathah yang dibaca agak panjang. Lihat tautan https://medium.com/@ringgo/linguistik-allah-nomina-adimakna-morfologi-1-3-3be435763e44

Ragam fungsi huruf “li” (لِ) sebagai berikut.

1. Huruf “li” (لِ) biasa diterjemahkan: untuk, bagi, kepada, milik, hendaklah. Misalnya :

اَلْحَمْدُ لِلهِ” (Segala pujian adalah milik Allah).

2. Huruf “li” (لِ) bisa berfungsi sebagai: huruf jar, huruf nashab, & huruf jazem. Penjelasan terinci di kitab Fahimna dan kitab-kitab Nahwu lainnya.

3. “li” (لِ) berfungsi sebagai huruf jar jika kata setelahnya berupa isim. Dengan adanya Li, maka Isim yang terletak setelahnya menjadi Majrur. Di antara cirinya ialah berharakat akhir Kasrah.

هَذَا الْبَيْتُ لِزَيْدٍ” (Rumah ini milik Si Zaid)

قُلْتُ لِحَسَنٍ” (Aku telah berkata kepada  Hasan)

ذَهَبْتُ إِلَى الْمَسْجِدِ لِلصَّلَاةِ” (Aku pergi ke masjid untuk shalat)

4. “li” yang berfungsi sebagai huruf jar bisa bermakna: milik, kepada, untuk (Lihat kembali contoh di atas). Kita bisa membedakannya dengan cara memahami konteks kalimatnya terlebih dahulu. Oleh karena itu, kita harus banyak punya mufradat.

5. “li” (لِ) yang berfungsi sebagai huruf jar, jika bersambung dengan isim yang beralif-lam, maka huruf alif dari isim itu harus dibuang. Lihat penjelasannya di Bagian Pendahuluan dari Kitab Fahimna Tingkat Pemula.

لِلهِ” (Milik Allah), asalnya adalah “ل + الله

لِلْمُسْلِمِ” (Miliki orang Muslim), asalnya adalah “ل + المسلم

6. Huruf “li” (لِ)  yang berfungsi sebagai huruf jar, jika bersambung dengan dhamīr (Ingat bahwa dhamīr termasuk isim mabni), maka harakatnya berubah jadi fathah. Kecuali, jika bersambung dengan dhamīr mutakallim (kata ganti orang pertama) harakat “li” tetap kasrah.

لَهُ” (untuk dia) : dhamīr ghaib (kata ganti orang ketiga tunggal)

لَكَ” (untuk kamu) : dhamīr mukhatab (kata ganti orang kedua tunggal)

لِيْ” (untuk saya) : dhamīr mutakallim (kata ganti orang pertama tunggal)

7. “li” berfungsi sebagai huruf nashab & huruf jazem jika kata yang terletak setelahnya berupa fi’il mudhari. Fi’il mudhari adalah kata kerja (verba) yang merujuk pada pekerjaan atau peristiwa yang sedang terjadi atau akan terjadi. Dengan demikian, fiil mudhari menunjukkan zaman sekarang (hal) dan zaman yang akan datang (istiqbal).
8. Jika “li”  berfungsi sebagai huruf nashab, maka fi’il mudhari yang terletak setelahnya menjadi manshub. Di antara cirinya ialah dengan diberi harakat fathah. Biasanya Li huruf nashab diterjemahkan “untuk atau agar

اِسْأَلْ لِتَفْهَمَ الدَّرْسَ” (Bertanyalah agar engkau faham pelajaran itu)

9. Jika “li”  berfungsi sebagai huruf jazem, maka fi’il mudhari yang terletak setelahnya menjadi majzum. Di antara cirinya ialah dengan diberi harakat sukun. Biasanya li huruf jazem diterjemahkan “hendaklah”. Huruf “li” ini biasanya juga dinamakan huruf lam amr, yaitu huruf lam yang berfungsi untuk memerintah. Dan biasanya bersambung denga huruf fa (yang artinya : maka). Jika bersambung sebelumnya dengan huruf fa, maka harakat “li” berubah jadi sukun.

لِيُنْفِقْ ذُوْ مَالٍ” (hendaklah berinfaq orang yang memiliki harta)

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ” (Jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah dia diam!)

Huruf “li” sering kita jumpai dalam teks berbahasa Arab. Oleh sebab itu, kita perlu memahami penjelasan tersebut di atas dengan baik. Selanjutnya, kita pelajari dan pahami  penerapannya di dalam Al-Qur’an, Al-Hadits, dan kitab ulama yang jadi referensi. Tautan https://pustakalaka.wordpress.com/2013/04/04/catatan-ilmu-nahwu-2-tentang-huruf-li/ dengan penyuntingan.

Makna Lafadz لله (lillah) dan makna lafad  له  : lillah dan lahu berbeda /hanya kepada Allah)”. Ini namanya Dhamīr Sya-an (ضمير الشأن), yang artinya yang ada hanya Allah semata.  

Dhamīr Syaan adalah dhamīr yang tidak kembali ke pembahasan sebelumnya, tidak seperti  dhamīr pada umumnya memiliki tempat kembali. Secara bahasa, dhamīr berarti: yang tersembunyi, rahasia, dan perasaan. Sedangkan menurut istilah, dhamīr berarti: isim (kata benda, nomina, noun) yang disebut sebagai ibarat (kata ganti) dari mutakallim (pembicara), mukhāthab(lawan bicara), dan ghāib(yang dibicarakan). Dalam bahasa Arab, dhamīr terbagi menjadi tujuh bagian: muttashil (bersambung), munfashil (terpisah), bāriz (tampak), mustatir (tersembunyi), marfū`, manshūb dan majrūr.

Dhamīr (kata  ganti, pronomina)  adalah  kata   ganti  orang  atau  benda.   Artinya,  nama

orang/benda dapat digantikan dengan kata ini. Baik orang/benda itu berada atau tidak  ada.  Dalam  bahasa  Indonesia  kita  mengenal  saya,  kamu,  dia ,  kalian,  kita, kami. Sedangkan dalam bahasa Inggris kita mengenal : i,you, he, she, they, we, it.

Dalam bahasa Arab terdapat 14 dhamīr. Mengapa lebih banyak? Karena, bahasa Arab adalah bahasa yang paling lengkap sastranya, selain itu bahasa Arab mengenal  jumlah  1,  2  dan  jamak.  Sedangkan  bahasa  Indonesia  hanya  mengenal tunggal dan jamak, demikian pula bahasa Inggris.

Dhamīr,  terbagi menjadi 3 yaitu :

Dhamīr Munfashil/Dhamīr yg terpisah adalah Dhamīr, yang berpisah dengan kata benda, maksudnya ia tidak  bersatu/bergandeng  dengan  kata  benda  lainnya.  Dalam  bahasa  Indonesia kita  biasanya  menyebutnya  sebagai  Subjek  dan  diletakkan  sebelum  kata  benda.  Misal : Saya Muhammad., Kata Saya, itu adalah Dhamīr.

Dhamīr Muttashil/Dhamīr yang tersambung

Dhamīr Mustatir/Dhamīr yang tersembunyi

 

https://pdfcoffee.com/dhamīr-pdf-free.html

http://amoehirata.blogspot.com/2015/03/kaidah-ilmu-al-quran-dhamīrkata-ganti.html

Bahasa Arab memiliki kesadaran gender pada konstruksi bahasanya (gender centric). Artinya, segala sesuatu dalam bahasa arab memiliki jenis kelamin. Bukan hanya orang, hewan dan tumbuhan, tapi juga benda. Padahal benda tidak memiliki identitas kelamin. Semua kosa kata Bahasa Arab memiliki gender tanpa kecuali.

Gelas, kursi, meja, papan tulis, piring, sendok, televisi, dan sebagainya memiliki jenis kelamin majazy (jenis kelamin konotatif).

Gender dalam Bahasa Arab terbagi menjadi dua, yaitu malemudzakkar مذكر dan femalemu'annats مؤنث

Gender untuk hal-hal yang sebetulnya tak berkelamin disebut sebagai mudzakkar majazy atau muannats majazy. Sedangkan untuk orang, yang betul-betul memiliki kelamin disebut dengan mudzakkar haqiqy atau muannats haqiqy.

Allah dalam hija'iyah tulisannya seperti ini →الله

Dalam ilmu simbol (Semiotika) tidak ditemukan tanda gender perempuan / alamatut ta'nits (علامة التأنيث ) pada lafadz “Allah”. Oleh sebab itu lafadz “Allah” menggunakan kata ganti "he" atau dalam pronoun bahasa arab disebut huwa/ هو (dia laki-laki), dalam dhamīr muttashil ( pronoun yang menempel) disebut "hu"/ه.

Penisbatan Allah dengan gender lelaki bukan bersifat denotatif (haqiqy), tapi konotatif (mudzakkar majazy). Gender laki-laki yang bukan sebenarnya.

Tautan https://id.quora.com/Mengapa-kata-ganti-untuk-Allah-dalam-bahasa-Arab-selalu-menggunakan-kata-yang-bergender-lelaki-contohnya-anta-huwa-hu-engkau-dia-nya

Makna lafadz له (lahu) dan makna lafad  هـ (hu) berbeda : lahu dan hu berbeda.

Lafadz ‘Hu, Hu..’ diucapkan dengan lisan. Jika dihilangkan ‘Hu’ tersebut, masuk ke dalam hati. Ini Namanya Dzikir Sirri. Kalau ‘Hu, Hu..’ dengan lisan masih Dzikir Jahri. Jadi dzikir kepada Allah ada yang Dzikir Sirri ada juga yang Dzikir Jahri.

Istilah /dhamīr/ dalam tatabahasa Indonesia disebut /kata ganti/ atau /pronomina/. Kata /hu/ termasuk kata ganti orang ketiga tunggal yang berarti /ia/ atau /nya/.

Penggunaan kata ganti /ia/ atau /nya/ merupakan objek atau subjek yang dibicarakan. Dalam percakapan hanya terjadi pada kata ganti orang pertama dan kata ganti orang kedua. Jadi kata ganti /ia/ atau /nya/ menunjukkan objek yang tidak pernah terlibat dalam percakapan.

 

Dzikir Hu Tidak Menghadap Allah

Penggunaan kata ganti orang ketiga (hu, ia, nya) menunjukkan bahwa aku dan ia tidak berhadapan.

Aku dan Kau (Ana wa Anta)

Dialog terjadi antara aku dan kau atau ana wa anta.

Mencermati Doa Nabi Yunus alaihissalaam

La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazhzhalimin adalah lafal dzikir sekaligus doa yang dibaca oleh Nabi Yunus. Ia seorang nabi dari agama Samawi yang dikenal membaca dzikir la ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin berturut-turut untuk memohon pertolongan dari Allah SWT (tuhannya) agar diangkat masalah hidupnya.

Doa Nabi Yunus Arab:

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Lailaha illa Anta subhanaka inni kuntu minazhzhalimin

Artinya Doa Nabi Yunus:

"Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim."

Nabi Yunus diberi tugas oleh Allah berdakwah kepada orang Assyiria di Ninawa-Iraq. Suatu kaum yang keras kepala, penyembah berhala, dan suka melakukan kejahatan. Meski sudah berulang kali Yunus memperingatkan mereka, tetapi mereka tidak mau berubah. Orang-orang ini bukan dari kaum Nabi Yunus sehingga membuatnya tidak mau bersabar berdakwah untuk mereka.

Nama Nabi Yunus disebutkan sebanyak 6 kali di dalam Al-Qur'an. Kisah yang digambarkan itu, membuat kehidupan Nabi Yunus menjadi penuh dengan keputusasaan dan merasa sangat berdosa. Ia melakukan pengembaraan dan suatu ketika memutuskan menunggangi kapal, tetapi justru Nabi Yunus yang mendapat undian harus disingkirkan dari kapal dan dilempar ke laut lepas.

Pada masa itu setelah bertahun-tahun berdakwah, Nabi Yunus merasa putus asa karena kaumnya selalu menentang dan tidak mau beriman. Ia pun berdoa kepada Allah agar menurunkan azab pada kaumnya.

Kemudian, Nabi Yunus memberitahukan kepada kaumnya bahwa azab Allah akan datang tiga hari lagi. Nabi Yunus pun pergi berlayar meninggalkan kaumnya untuk mencari kaum lain yang mau mendengar seruannya. Di tengah perjalanan, kapal yang ditumpangi Nabi Yunus terkena badai dan hampir tenggelam. Nahkoda memberitahukan bahwa harus ada yang dilempar ke laut untuk mengurangi beban kapal.

Penumpang di kapal melakukan undian dan nama Nabi Yunus keluar sebanyak 3 kali. Nabi Yunus akhirnya menceburkan diri ke laut, lalu Allah memerintahkan ikan paus untuk menelannya.

Lafal “laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazhzhalimin” adalah dzikir yang disebut pula doa Dzun Nuun. Lafal ini menunjukkan pengakuan tauhid dari Nabi Yunus dengan mengakui bahwa diri beliau termasuk golongan orang yang zhalim. Beliau menyadari bahwa beliau ditaqdirkan untuk hidup selama beberapa hari di dalam perut ikan paus setelah dilempar ke laut. Tentu beliau memohon kepada Allah agar kesulitan hidupnya diangkat oleh Allah.

Dikisahkan pula bahwa selama 40 hari berada di dalam perut ikan paus, Nabi Yunus dengan kesungguhan terus-menerus berdzikir laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazhzhalimin dan memohon ampun kepada Allah. Sampai pada akhirnya, Allah menerima taubatnya dan memerintahkan ikan paus untuk memuntahkannya ke daratan.

Mencermati Doa Antassalaam Sesudah Shalat

اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَا ذَالْجَلاَلِ وَالْأِ كْرَامِ

Allahumma antassalam, wa minkassalam, wa ilaika ya'uudussalam, fahayyina robbana bissalam, wa adkhilnal jannata daarassalam, tabarakta rabbana wa ta'aalayta, yaa dzal jalaali wal ikram.

Artinya, "Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang mempunyai kesejahteraan, dari-Mu kesejahteraan itu, kepada-Mu akan kembali lagi segala kesejahteraan itu, Ya Tuhan kami, hidupkanlah kami dengan sejahtera. Masukanlah kami ke dalam surga kampung kesejahteraan. Engkaulah yang berkuasa memberi berkah yang banyak dan Engkaulah Yang Maha Tinggi, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan."

Melakukan dzikir setelah selesai shalat menjadi amalan sunnah yang disukai Allah. Oleh karena itulah, sebaiknya setelah selesai melaksanakan shalat, kita tidak ketinggalan untuk berdoa dan berdzikir agar ibadahnya menjadi lebih. Salah satu dzikir yang tidak asing bagi umat muslim adalah doa allahumma antassalam.

Adapun dzikir doa “Allahumma antassalam” sudah dijelaskan dalam Hadits Riwayat Muslim yang berbunyi sebagai berikut.

حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ أَبِي عَمَّارٍ، اسْمُهُ شَدَّادُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ، عَنْ ثَوْبَانَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ: «اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ» قَالَ الْوَلِيدُ: فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ: ” كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ؟ قَالَ: تَقُولُ: أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ

Artinya, “Rasulullah setelah selesai dari shalatnya beliau membaca istighfar sebanyak tiga kali, lalu mengucapkan ‘Allahumma antassalam wa minkassalam tabarakta yaa dzal jalali wal ikram.’”

Dengan rutin membaca doa Allahumma antassalam, maka kita akan mendapatkan hikmah yang luar biasa dari Allah SWT. Hal ini karena kita akan senantiasa mengingat Allah SWT ketika sedang berdzikir.

Mencermati Doa Kafaratul Majelis

Usai mengikuti penyelenggaraan suatu acara, kita dianjurkan membaca doa penutup yang kita kenal sebagai doa karatatul majlis. Doa ini menunjukkan ungkapan syukur kepada Allah atas terselenggaranya acara yang dimaksud dari awal, proses, sampai akhir dengan baik tanpa ada halangan sedikitpun.

Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu al-laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaik.

Artinya: "Maha Suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertobat kepada-Mu."(Hadits Riwayat Ashhaabus Sunan dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/153.)

Dengan memperhatikan kata ganti orang pertama “aku” sebagai dhamīr mutakallim , doa kafaratul majlis ini dianjurkan untuk dibaca oleh masing-masing peserta yang hadir.


Allah Itu Jauh ataukah Dekat?

Suatu hari, seorang Arab pegunungan (badui) meminta izin untuk bertemu dengan Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW kemudian menerimanya. Setelah itu, si badui bertanya, "Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku, apakah Tuhan kita jauh atau dekat?"

Mendengar pertanyaan itu, Nabi SAW diam sejenak. Beliau kemudian bertanya balik kepada si badui.

"Apa maksudmu dengan pertanyaan itu?"

"Begini, ya Rasulullah," jawab dia, "Kalau Tuhan itu dekat, aku cukup berdoa dengan suara berbisik kepada-Nya. Akan tetapi, bila Tuhan itu jauh, aku akan berteriak dengan suara keras saat berdoa kepada-Nya."

Rasul SAW pun kembali terdiam. Inilah salah satu contoh teladan Nabi SAW, yakni hendaknya tidak terburu-buru menjawab pertanyaan, apalagi tanpa adanya petunjuk. Dalam hal ini, beliau ingin menjawab, tetapi dengan kata-kata yang sampai pada daya tangkap si badui.

Tiba-tiba, wahyu turun kepada Nabi SAW. "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran" (QS Al-Baqarah 2:186).

Ayat tersebut di atas membimbing kita untuk mengambil hikmahnya yaitu adab dalam berdoa. Pertama, kita yakin bahwa Allah itu dekat, yang ditandai dengan kita percaya bahwa Allah Mahamendengar dan akan mengabulkan doa kita. Kedua, kita berusaha istiqamah dalam melaksanakan  ketaatan yang telah Allah perintahkan. Ketiga, kita berusaha istiqamah dengan teguh beriman kepada Allah .

Tautan https://islamdigest.republika.co.id/berita/q827ox458/ketika-nabi-muhammad-ditanya-allah-jauh-atau-dekat

Berdzikir dan Berdoa Mengikuti Ajaran Nabi Muhammad SAW

Di ranah tasawuf (tarekat sufi) terdapat beragam metode zikir yang diajarkan oleh para mursyid/syeikh sufi kepada para muridnya. Banyak tingkatan zikir dan cara menerapkannya yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Salah seorang ulama sufi mengatakan bahwa apapun tarekatnya ada 3 metode zikir : 1. Zikir jasad yaitu zikir dengan kalimat Laa ilaaha illallaah, 2. Zikir hati/ruh yaitu zikir dengan kalimat Hu Allah, dan 3. Zikir sirr/nurani yaitu zikir dengan kalimat Hu. Dari ketiga metode zikir tersebut tidak ada yang melebihi atau lebih utama dari yang lain kecuali kalimat Laa ilaaha illallaah sesuai dengan sabda nabi.

Klausa tersebut di atas menunjukkan bahwa berzikir yang sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW adalah kalimat “laa ilaaha illallaah”. Sedangkan 2 metode yang disebutkan sebagai zikir hati dan zikir sirr merupakan metode asumsi (metode rekayasa, metode modifikasi) yang jauh dari kaidah nahwu sharaf (sintaksis dan morfologi).

Tautan https://rumaysha.com/17107-dzikir-paling-utama-laa-ilaha-illallah.html

 

Pangkur-Ngawi, 22 Mei 2024 M / 14 Dzulqa’idah 1445 H Pukul 18.46 WIB

*) Penulis adalah Budayawan/Penasihat GPMB Ngawi bertempat tinggal di Desa Pangkur, Kecamatan Pangkur, Ngawi dan Pengurus PCM Pangkur