SEJARAH MUHAMMADIYAH DI NGAWI II MILAD 109 DAN 96 DI NGAWI

Fajar pencerahan Gerakan Muhammadiyah di kabupaten ngawi dimulai pada tahun 1918 yang kemudian secara resmi menjadi perkumpulan pada tahun 1925, dimana saat itu pada tanggal 6/7 Agustus 1925 di rumah mas Prawirodihardjo seorang Hoofmandoer Hospitaal di kampung ketanggi Kota Ngawi.....

Majelis Pustaka, Informasi dan Digitalisasi PDM Ngawi Ikuti Rakerwil MPID PWM Jawa Timur

Majelis Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ngawi mengikuti Rapat Kerja Wilayah (rakerwil) yang diselenggrakan oleh MPID PWM Jawa Timur. Rakerwil berlangsung di Aula Mas Mansyur PWM Jatim pada Sabtu (4/11)....

Pengukuhan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Ngawi Periode 2023-2027

Minggu 7 Januari 2024 bertempat di Pendopo Wedya Graha Kabupaten Ngawi telah dilaksanakan acara Pengukuhan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Ngawi. Proses pengukuhan ini dihadiri oleh Wakil Bupati Ngawi Dr. Dwi Rianto Jatmiko, MH, M.Si, unsur Forum Pimpinan Daerah, Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur, Unsur Pimpinan Organisasi Otonom Muhammadiyah, Pimpinan Organisasi Aisyiyah, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ngawi yang kali ini diwakili oleh Kabid. Kepemudaan Yetty Nilam Sulandriana, SS, M.M dan semua Pengurus Pemuda Muhammadiyah se Kabupaten Ngawi.

Majelis Tabligh PDM Ngawi Selenggarakan Raker Bahas Program Kerja dan Persoalan-Persoalan di Cabang

Sebagai upaya meningkatkan sinergi program kerja, Majelis Tabligh PDM Ngawi menyelenggarakan Rapat Kerja dan sosialisasi Program Kerja Majelis Tabligh PDM Ngawi. Sehubungan dengan hal tersebut, majelis Tabligh PDM Ngawi mengundang utusan dari Korbid Tabligh dan Majelis Tabligh PCM se-kabupaten ngawi......

Selepas Mengisi KAP, Prof. Dr. Biyanto, M.Ag. Meninjau Pembangunan Islamic Center Muhammadiyah (ICM) Ngawi

Kajian Ahad pagi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ngawi bersama Prof. Dr. Biyanto, M.Ag., mengangkat tema "Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah." Tema ini sangat relevan bagi warga Muhammadiyah, ...

Kamis, 13 Juni 2024

Berawal dari Yoghurt [Satu Segmen Proses Kreatif Menulis] - Esai Kusfandiari MM Abu Nidhat*)


Di salah satu grup WhatsApp yang diikuti Guru Galib, ada pesan yang masuk sebagai berikut.

Ketika susu basi, ia menjadi yoghurt. Yoghurt lebih bernilai daripada susu. Jika bahkan menjadi lebih basi, ia berubah menjadi keju. Keju lebih bernilai daripada yoghurt dan susu. Dan jika jus anggur menjadi asam, ia berubah menjadi anggur, yang bahkan lebih mahal daripada jus anggur.

Anda tidak buruk karena Anda membuat kesalahan. Kesalahan adalah pengalaman yang membuat Anda lebih bernilai sebagai pribadi.

Christopher Columbus membuat kesalahan navigasi yang membuatnya melenceng dari tujuannya untuk menemukan route baru ke Asia, tapi malah menemukan benua Amerika.

Kesalahan Alexander Fleming membawanya menemukan Penisilin.
Jangan biarkan kesalahan membuat Anda terpuruk.
Selain latihan yang membuat sempurna. Kesalahan yang kita pelajaripun membuat kita belajar untuk lebih sempurna!

~ Reno Omokri
✍🏼blog Awesome quotes & notes


Di Grup Penggiat Literasi Indonesia 1, grup yang lain tentunya, Guru Galib menemukan pesan yang disampaikan oleh Nubarant Ronaldo Rozalino, bunyinya sebagai berikut.

MOTIVASI PLATO KEPADA MURID-MURIDNYA

Di Akademi Athena, Plato berbicara kepada sekelompok murid yang sedang merasa putus asa setelah menghadapi beberapa kegagalan dalam studi mereka. Dengan nada lembut namun penuh keyakinan, Plato mengajak mereka untuk merenungkan makna kegagalan.

Plato : "Anak-anakku, kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan kita. Sebaliknya, itu adalah batu loncatan menuju kesuksesan. Setiap kali kita gagal, kita diberi kesempatan untuk belajar sesuatu yang baru. Kita bisa melihat kesalahan kita, memahami apa yang tidak berhasil, dan mencari cara untuk memperbaikinya."

Kemudian Seorang murid muda, terlihat sedih dan putus asa, bertanya dengan suara bergetar, "Tapi, Guru, bagaimana kita bisa melihat kegagalan sebagai hal yang positif ketika kita merasa begitu kecewa?"

Plato : "Aku mengerti perasaanmu. Kegagalan memang bisa membuat kita merasa kecewa. Namun, pikirkanlah tentang seorang anak yang belajar berjalan. Berapa kali dia jatuh sebelum akhirnya bisa berdiri dengan tegak dan berjalan? Setiap kali dia jatuh, dia belajar sesuatu yang baru tentang keseimbangan dan kekuatan. Tanpa kegagalan itu, dia tidak akan pernah bisa berjalan."

Murid lain mengangguk, mulai memahami. "Jadi, setiap kegagalan adalah pelajaran?" Tanya mereka.

Plato : "Tepat sekali. Setiap kegagalan adalah pelajaran yang membawa kita lebih dekat pada kesuksesan. Itu adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, untuk menjadi lebih baik, lebih kuat, dan lebih bijaksana. Ketahanan kita diuji melalui kegagalan, dan ketekunan kita diperkuat. Ingatlah bahwa "Kesuksesan yang sejati tidak datang tanpa usaha dan perjuangan."

Para muridpun mulai melihat kegagalan dari sudut pandang yang berbeda. Mereka menyadari bahwa setiap kegagalan membawa mereka lebih dekat pada tujuan mereka, asalkan mereka mau belajar dan terus berusaha. Mereka berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyerah dan menggunakan setiap kegagalan sebagai batu loncatan menuju kesuksesan.

Jadi filosofi Pernyataan Plato bahwa "kegagalan adalah batu loncatan menuju kesuksesan" mengajarkan kita untuk melihat kegagalan sebagai bagian penting dari proses belajar dan berkembang. Kegagalan memberikan pelajaran berharga, membangun ketahanan, dan memotivasi kita untuk berusaha lebih keras. Dengan memahami hal ini, kita bisa menghadapi kegagalan dengan sikap positif dan menggunakan setiap kegagalan sebagai kesempatan untuk tumbuh dan mencapai kesuksesan.


Karena merasa ada relevansinya dengan motivasi berwirausaha, Guru Galib meneruskan kedua tulisan tersebut di atas ke Grup Paguyuban Kelompok Pemanfaat Desa Pangkur, dengan menambah klausa :

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang ulet dan tahan segala cuaca dan musim. Barakallaahu fii umrinaa.
🤲🤲 (tanda dua telapak tangan simbol berdoa)

Dari postingan diteruskan seperti tersebut di atas, Guru Galib “kepikiran” untuk mengembangkan bagian-bagian paragraf. Hasilnya diposting di Grup GPMB Ngawi, sebagai berikut.

Berawal dari Kegagalan

Yoghurt adalah produk pangan berupa hasil olahan susu melaui proses fermentasi menggunakan bakteri tertentu, yaitu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Kombinasi kedua bakteri tersebut berfungsi untuk mengubah laktosa (gula susu) menjadi asam laktat yang berakibat pada penurunan pH dan terbentuknya gumpalan disebabkan koagulasi protein susu oleh asam sehingga menghasilkan cita rasa yang khas karena mengandung komponen flavor seperti diasetil, asetaldehit dan karbondioksida.

Paragraf tersebut hanyalah menunjukkan simpulan dari proses keberhasilan. Padahal jauh sebelumnya, "penemunya" secara tidak sengaja membiarkan satu tong (atau bertong-tong) air susu yang terlambat dikonsumsi atau didistribusikan untuk dikonsumsi.

Yoghurt adalah produk olahan susu basi yang dianggap sebagai kegagalan. Dalam proses selanjutnya, melalui uji coba dan keliru, yoghurt telah jadi produk yang berkualitas yang menunjukkan nilai ekonomi melebihi nilai ekonomi susu.

Bagaimana halnya dengan kita yang berkutat di zona literasi? Tidak ada kata terlambat untuk berbuat, menulis, berbicara, dan bereksperimen. Mungkin saja kemarin, kita gagal membuat "yoghurt", tidak mengapa. Simpan saja dokumen itu di file laptop yang mudah dicari dan ditemukan. Siapa tahu kelak, tulisan itu bisa kita olah jadi "Produk yang Berkualitas".

Salam Literasi, Tetaplah Berproduksi!


💪😃 (simbol wajah bersemangat dan tangan mengepal)
Barakallaahu fii umrinaa.
🤲🤲 (simbol kedua telapak tangan lagi berdoa)

Masih terinspirasi dari tulisan Reno Omokri ✍🏼blog Awesome quotes & notes terkait dengan istilah “keju” yang berawal dari suatu kegagalan, Guru Galib berburu menyusun tulisan hasilnya sebagai berikut.

Berlanjut Jadi Keju


Keju adalah jenis produk olahan berbahan baku susu. Keju terbuat dari susu yang digumpalkan. Proses penggumpalan ini bisa dilakukan dengan hanya menambahkan asam atau dengan menggunakan enzim yang dibantu oleh bakteri baik. Enzimnya dikenal dengan rennet.


Dengan daya imajinasinya, Guru Galib mengolah alinea :

Paragraf tersebut hanyalah menunjukkan simpulan dari proses keberhasilan. Padahal jauh sebelumnya, "penemunya" secara tidak sengaja membiarkan satu tong (atau bertong-tong) air susu yang terlambat dikonsumsi atau didistribusikan untuk dikonsumsi.

Menjadi alinea baru sebagai berikut.

Paragraf tersebut di atas hanyalan menunjukkan simpulan dari proses keberhasilan. Dulu “penemunya” yang lain tentunya secara tidak sengaja membiarkan “yoghurt” mengering dan atau mengalami penggumpalan. Ia tentu pernah mengalami kegagalan. Dan kegagalan itu bukan satu kali dua kali, melainkan berkali-kali, sampai ia benar-benar menemukan “produk baru” yang ia beri nama “keju” atau “cheeze”.

Lalu pada alinea di bawahnya yang berbunyi :

Yoghurt adalah produk olahan susu basi yang dianggap sebagai kegagalan. Dalam proses selanjutnya, melalui uji coba dan keliru, yoghurt telah jadi produk yang berkualitas yang menunjukkan nilai ekonomi melebihi nilai ekonomi susu.

Diolah dan atau diubah menjadi alinea :

Sebagai produk olahan susu basi atau yang mengalami fermentasi bolehlah dianggap pernah dan telah mengalami kegagalan berkali-kali, sampai “penemunya” menemukan produk baru yang bernama keju. Inilah yang namanya kegagalan berbuah keberhasilan.

Lalu pada alinea di bawahnya yang berbunyi :

Bagaimana halnya dengan kita yang berkutat di zona literasi? Tidak ada kata terlambat untuk berbuat, menulis, berbicara, dan bereksperimen. Mungkin saja kemarin, kita gagal membuat "yoghurt", tidak mengapa. Simpan saja dokumen itu di file laptop yang mudah dicari dan ditemukan. Siapa tahu kelak, tulisan itu bisa kita olah jadi "Produk yang Berkualitas".

Diolah dan atau diubah menjadi alinea :

Kita yang senantiasa berkutat di zona literasi “tak putus dirundung malang”, “tak pernah berhenti dirundung salah ketik ataupun salah dalam redaksi tulisan”. Inilah yang namanya perkembangan berpikir. Jangan pernah ada kata puas, sampai benar-benar tulisan kita enak dibaca dan penting. Perkara orang lain tidak memahami, itu persoalan lain. Perkara, saat diposting di grup kemudian tidak ada yang menanggapi sama sekali, kita tidak usah risau betul. Boleh jadi memang tulisan kita tidak berkualitas atau tidak dipahami para anggota dalam grup. Namun, boleh jadi pula tulisan kita diam-diam disimpan dan atau diteruskan kepada teman literat yang tidak ada dalam grup.

Kemudian menambahkannya dengan bagian tulisan berikutnya :

Christopher Columbus saja pernah membuat kesalahan navigasi. Orang-orang dalam satu kapal berlayar dengan tujuan yang melenceng dari yang direncanakan. Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Maksud hati berlayar sesuai dengan navigasi, apa daya kapal berlayar dengan “route baru” ke wilayah lain ke Asia, bahkan kemudian ia (atau mereka) menemukan benua Amerika. Tidak jelas (tidak ada berita) yang mungkin ada awak kapalnya berseru,”Perjalanan ini ngawur dan terasa sangat melelahkan, beruntunglah kalian tidak ikut pelayaran kami.”

Biasa, Guru Galib menyisipkan joke-joke yang menyegarkan otak untuk menepis kejenuhan. Juga ia menambahkan alinea yang baru.

Alexander Fleming saja pernah mengalami kesalahan. Buah kesalahan adalah keberhasilan juga. Fleming tidak banyak melakukan penelitian mengenai penisilin setelah pengamatan awalnya pada tahun 1928. Mulai tahun 1941, setelah wartawan berita mulai meliput uji coba awal antibiotik pada manusia, Fleming yang tidak memiliki kepemilikan sebagai penemu penisilin. Hal ini membuat Florey sangat khawatir bahwa kontribusi kelompok Oxford justru diabaikan. Masalah ini sebagian diperbaiki pada tahun 1945, ketika Fleming, Florey, dan Chain – tetapi bukan Heatley – dianugerahi Hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran. Dalam pidato penerimaannya, Fleming memperingatkan bahwa penggunaan penisilin yang berlebihan dapat menyebabkan resistensi bakteri.

Pada tahun 1990, Oxford menggantikan pengawasan komite Nobel dengan menganugerahkan Heatley gelar doktor kehormatan kedokteran pertama dalam 800 tahun sejarahnya.

Mungkin pada tanggal 28 September ini, saat kita merayakan pencapaian besar Alexander Fleming, kita ingat bahwa penisilin juga membutuhkan kebidanan Florey, Chain dan Heatley, serta pasukan pekerja laboratorium.


Referensi :
https://www-pbs-org.translate.goog/newshour/health/the-real-story-behind-the-worlds-first-antibiotic?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc

Tulisan tersebut di atas segera diposting di grup Guru Pembelajar Bahasa Indonesia. Tidak peduli ada yang membaca atau tidak. Tidak peduli ada tanggapan atau sekedar mengapresiasi dengan ikon.

Juga bercermin pada keberhasilan Flemming dan kawan-kawan, Guru Galib merasa berhutang budi kepada teman-teman literat yang punya andil besar dalam mengantarkan “daya berpikirnya” yang semakin lama semakin “liar” dan berkembang pesat. Meski mungkin tidak diakui dunia manapun, ia terus menulis dan menulis. Meski pula tulisannya tidak pernah dipahami orang, karena dirasa “aneh” dan “nyleneh” atau tidak lazim. Guru Galib memang galib dan bertahan pada galibnya.

Ia tentu tetap teringat saat guru SD di kota Mojokerto menerangkan kepada murid-muridnya di kelas IV bagaimana cara menggambar lampu teplok berbahan bakar minyak tanah.

“Pada galibnya, lampu teplok itu seperti ini,” sambil menunjukkan lukisan lampu teplok yang ada di papan tulis. Dulu papan tulis itu dicat hitam, dan alat tulisnya berupa kapur tulis batangan.

Tak urung di luar kelas “didengar” oleh wartawan yang akan mewawancarainya tentang kemajuan pendidikan. Sewaktu istirahat wartawan itu menemui Pak Guru. Sebelum wawancara dimulai, wartawan sempat bertanya,”Pada galibnya itu apa, Pak Guru?” “O... galibnya itu mblendhuknya,” jawab Pak Guru dengan enteng.

Kisah singkat Pak Guru menggambar galib lampu teplok itulah, penulis menggunakan tokoh yang bernama Guru Galib untuk peran-peran yang aneh, nyleneh, absurd, di luar nalar pada umumnya, dan lain-lain, dan sebagainya.

Pangkur-Ngawi, 11 Juni 2024 M / 03 Dzulhijjah 1445 H Pukul 02.44 WIB *) Penulis adalah Budayawan/Penasihat GPMB Ngawi bertempat tinggal di Desa Pangkur, Kecamatan Pangkur, Ngawi dan Pengurus PCM Pangkur

Senin, 10 Juni 2024

Parenting : Ada Apa dengan Bahasa Ibu? - Esai Kusfandiari MM Abu Nidhat*)


QS Ar-Rum · 30:22
وَمِنْ اٰيٰتِهٖ خَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ اَلْسِنَتِكُمْ وَاَلْوَانِكُمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْعٰلِمِيْنَ ۝٢٢

wa min âyâtihî khalqus-samâwâti wal-ardli wakhtilâfu alsinatikum wa alwânikum, inna fî dzâlika la'âyâtil lil-‘âlimîn

Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berilmu.

Tafsir Wajiz

Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah penciptaan langit tanpa penyangga dan bumi yang terhampar, demikian pula perbedaan bahasamu yang diucapkan dengan mulut yang terdiri atas unsur yang sama: bibir, gigi, dan lidah; dan perbedaan warna kulitmu meski kamu berasal dari sumber yang satu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda eksistensi dan keesaan-Nya bagi orang-orang yang mengetahui atau berilmu. Dari 8.324 bahasa, sekitar 7.000 masih digunakan. Situs web Ethnologue, Languages of the World, salah satu situs yang otoritatif dan banyak dikutip oleh linguis, mencatat bahwa bahasa yang digunakan di dunia berjumlah 7.168 (perbedaan bahasa).

Al-Qur’an menyebut cara berbahasa dan komunikasi yang baik itu dengan istilah Qaulan Ma’rufan (QS An-Nisa’ ayat 5 dan ayat 8). Qaulan ma’rufan adalah kalimat dan kata yang sopan, lemah lembut, ungkapan yang pantas dan tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan yang mendengar atau diajak bicara.

Ma’rufa identik dengan kata ‘urf yang bermakna budaya. M. Quraish Shihab menyatakan ma’ruf secara bahasa artinya baik dan diterima oleh nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat. Karena itu Qaulan ma’rufan berarti perkataan yang pantas dengan latar belakang dan status seseorang, menggunakan sindiran (tidak kasar) dan tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan serta pembicaraan yang bermanfaat dan menimbulkan kemaslahatan.

Selain Qaulan ma’rufan, Al-Qur’an juga menyebut istilah Qaulan Sadida (QS An-Nisa’ 4:9) yaitu istilah yang digunakan untuk menyebut perkataan yang benar dan jujur. Perkataan yang kita sampaikan hendaknya perkataan yang benar dan jujur, bukan berbohong atau mengandung penipuan. Kemudian ada istilah Qaulan Baligha (QS An-Nisa’ 4:63), yang artinya perkataan yang tetap sasaran dan mudah dimengerti serta berbekas di jiwa. Al-Qur’an juga menggunakan istilah Qaulan Karima (QS Al-Isra 17:23), yang artinya perkataan atau ucapan yang mulia, bukan kata yang penuh cacian, kasar lagi keras. Ada pula istilah Qaulan Layyinan (QS Thaha 20:44), artinya perkataan yang lemah lembut yang menggugah kesadaran. Terakhir adalah Qaulan Maysura (QS Al-Isra 17:28) yang artinya perkataan yang ringan, mudah dimengerti dan dipahami.

Menjadi tugas orang tua, para pendidik, dan para pemimpin untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada anak didik dan generasi penerus bangsa. Salah satunya adalah dengan mengajarkan berbahasa dan berkomunikasi yang baik. Cara berbahasa yang baik adalah cermin dari karakter diri. Menggunakan istilah Al-Qur’an, berbahasa dan berkomunikasilah dengan Qoulan ma’rufan, Sadidan, Baligha, Karima, Layyinan dan Maysura. (Dr. Mukhtar Hadi, MSi (Direktur Pascasarjana IAIN Metro) 16.01.23)
https://www.metrouniv.ac.id/artikel/penggunaan-bahasa-dan-karakter-diri/

Ibu adalah Sekolah Pertama

Bahasa Ibu adalah bahasa yang pertama kali dipelajari oleh seorang anak kecil (sejak kecil) secara alamiah dan menjadi dasar sarana komunikasi serta pemahaman terhadap lingkungannya. Dikatakan Bahasa Ibu, karena anak (anak-anak) belajar berkomunikasi dengan bahasa yang dipergunakan oleh Ibu. Secara intensif setiap hari Ibu mengajari mereka mengucapkan kata-kata tertentu untuk mengenalkan benda-benda yang ada di sekitarnya. Awalnya tidak langsung paham, lama kelamaan mereka paham. Awalnya tidak langsung bisa mengucapkan dengan ucapan yang benar, lama kelamaan mereka bisa fasih (dengan lancar, tepat, dan benar) ucapan dan makna yang dimaksud. Dari Bahasa Ibu, mereka menerima transformasi pendidikan pertama dengan tahap-tahap yang mendasar tanpa kurikulum.

Hafez Ibrahim (24 Februari 1872 – 21 Juni 1932) adalah seorang penyair Mesir terkenal dari awal abad ke-20. Ia dijuluki "Penyair Sungai Nil", dan kadang-kadang "Penyair Rakyat", karena komitmen politiknya kepada orang miskin. Salah satu ungkapannya yang terkenal, yaitu “al-Ummu Madrasatul-ula, iza a'adadtaha al'dadta sya'ban thayyibal a'raq!” artinya “Ibu adalah Sekolah Pertama bagi anaknya, jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya!” (Murtafiah, 2019). Kata “al-ummu (الأُمُّ)” atau “ummun (أُمٌ)”, artinya ibu. Misalnya: Ummu Badriyah (Ibu Badriyah), Ummu Fadil (Ibu Fadil), Ummu Syamsiyah (Ibu Syamsiyah), Ummu Yazid (Ibu Yazid). Sedangkan panggilan anak kepada ibunya (ibu kandungnya), adalah “ummi” yang berarti “Ibu” atau “Ibuku”, dan ibu-ibu pada umumnya disebut “ummah”. Terkait dengan kebangsaan disebut “ummat” karena terbayang di komunitas tersebut terdapat peran ibu-ibu.

Dikatakan “al-ummu madrasatul ula” – “Ibu adalah Sekolah Pertama”, karena berawal dari ibulah, anak-anak memperoleh pendidikan. Dari ibulah, mereka belajar mengenali hal-hal baru dalam hidupnya. Mereka belajar menyimak dan berbicara, menimba ilmu dan adab yang mulia, serta menempa kepribadiannya demi mengarungi kehidupan yang luas bagai samudera di masa mendatang.

Dengan kata lain, ibu berperan dan bertanggung jawab dalam mendidik dan mengajar anak-anaknya. Dari ibu, anak-anak termotivasi untuk belajar sesuatu. Ibu adalah sosok pertama yang memperkenalkan dan mengajarkan anak terhadap dunia. Ibu memberi inspirasi dan berpengaruh dalam membentuk pola pikir anak. Dalam keluarga, berperan penting mendidik dan mengajar tentang keyakinan beragama, adab dan norma, fisik dan mental, intelektual, dan psikologi anak-anak sehingga terbentuk kepribadian yang baik dalam diri mereka.

Dengan Bahasa Ibu, anak usia dini mengenal dunia sekitarnya. Dengan mekanisme mekanisme pengenalan dunia sekitar, pancainderanya menunjukkan kinerja yang berlanjut sampai ke saraf pusat. Dengan Bahasa Ibu, mereka bisa mengungkapkan keinginannya. Dengan Bahasa Ibu, mereka menempuh beragam aspek perkembangan yang menyangkut agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, sosial-emosional, bahasa, dan seni. Pada tahap ini, terjalinlah komunikasi dan interaksi antara anak dan orang sekitar, terutama Ibu.

Dengan Bahasa Ibu, anak-anak yang mulai menyimak dengan mengenal ucapan dari ibu atau orang lain yang lagi berkomunikasi dengan mereka, kemudian mereka mencoba meniru dengan mengucapkan “kata yang kurang lebih sama bunyinya”. Dalam masa pertumbuhan, bayi mulai belajar untuk memanggil “Ibu” atau “Mama” atau “Ummi”, “Ayah” atau “Papa” atau “Abi”. Komunikasi yang terjadi menjadi dasarpengalaman pendengaran dan penglihatan mereka terhadap bahasa sekitar.

Ketika telah mampu bersuara, pelan-pelan mereka belajar kosakata dengan tata bahasa sederhana. Mereka mulai memahami makna tiap kata yang bergantung pada pengalamannya. Pelafalan kata-kata pun bergantung pada pola pengasuhan di lingkungan terdekat dan perbedaan domisili. Dengan demikian, perkembangan Bahasa Ibu bagi mereka menjadi bagian terpenting dalam perkembangan komunikasi anak usia dini. Hal inilah yang tidak boleh lepas dari perhatian orang tua dan pendidik.

Anak-anak mendengar dan melihat orang-orang di sekitarnya berbicara. Dengan cermat, mereka mendengar kata diucapkan, sekaligus mereka melihat gerakan bibir saat mengucapkan kata yang dimaksud. Kemampuan fisiologi semacam ini diteruskan ke saraf pusat yang menjadi titik utama kemampuan kognitif mereka. Mereka mulai menguasai dan memahami percakapan yang terjadi, dan dapat mengucapkan dari bagian percakapan yang dimaksud.

Bahasa Ponsel Bahasa Kedua (?)

Saat Ibu Muda sibuk karena profesi, biasanya pengasuhan anak diserahkan kepada asisten rumah tangga (ART). Tidak semua ART memahami pendidikan, namun punya bekal dalam pengasuhan meski tidak sepenuhnya. Ponsel sebagai produk teknologi multifungsi menjadi sasaran dipergunakan sebagai mainan anak-anak. Yang penting mereka diam, tidak rewel, dan asyik dengan pencarian hal-hal baru yang mereka sukai. Boleh jadi mereka terjun secara mandiri dalam komunikasi dengan bahasa yang berbeda dengan Bahasa Ibu, katakanlah Bahasa Kedua.

Anak usia 2 - 4 tahun boleh jadi memiliki bakat terpendam dengan karakter memiliki kemampuan luar biasa di bidang seni, menghitung atau mengingat angka, kosakata yang beragam, rasa ingin tahu yang tinggi, tidak bisa berhenti bertanya, berkonsentrasi pada satu tugas untuk jangka waktu yang panjang, sangat senang ketika mengerjakan hal yang sesuai dengan ketertarikan mereka, suka menerima tantangan dengan aktivitas sulit, berdaya imajinasi tinggi, serta mampu mengingat fakta dengan mudah dan bisa menceritakan kembali informasi yang mereka terima.

Selidik punya selidik, Ibu merasa curiga lalu melakukan observasi ringan di waktu senggangnya. Ternyata dengan ponsel, si buah hati memiliki akses ke beragam sumber informasi dan sumber belajar yang tidak terbatas. Ibu baru tahu bahwa si buah hati punya bakat terpendam. Ia pernah berpesan kepada ART agar membatasi si buah hati memegang ponsel. Namun, ART tidak berkuasa untuk melarang. Ada pembiaran kepada si buah hati untuk berlama-lama “bermain” ponsel.

Setelah diadakan “tes” ternyata si buah hati hampir bisa menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan Ibu. Si Ibu merasa bangga dan gembira karena ia menemukan bakat terpendam anaknya. Ia pun baru tahu bahwa si anak mempunyai Bahasa Kedua. Jika Bahasa Pertama atau Bahasa Ibu-nya adalah Bahasa Jawa, kini si anak “telah menguasai” Bahasa Kedua, yaitu Bahasa Indonesia.

Alih Kode Vs Campur Kode

Dalam kajian sosiolinguistik, anak yang memiliki dua bahasa (dwi bahasa) tidak bisa menghindari alih kode dan campur kode. Bahasa sebagai alat komunikasi, di era digital dikenal dengan kode komunikasi.

Model komunikasi coding-decoding pertama kali dikembangkan oleh pakar kajian budaya Stuart Hall pada tahun 1973. Stuart Hall memberi judul penelitiannya 'Encoding dan Decoding dalam Wacana Televisi. ' Esai Hall menawarkan pendekatan teoretis tentang bagaimana pesan media diproduksi, disebarluaskan, dan ditafsirkan.

Jika dirunut, sejarah bahasa berlangsung sepanjang sejarah manusia. Para peneliti sejarah bahasa yang menyimpulkan bahwa bahasa muncul pertama kali kurang lebih 3000 tahun SM. Bahkan, menurut Noam Chomsky, bahasa muncul sekitar 60.000 hingga 100.000 tahun yang lalu di Afrika. Sebelum bahasa ditemukan, diperkirakan manusia berkomunikasi menggunakan suara-suara yang dihasilkan oleh mulut dan melalui gerakan tubuh saja.

Berdasarkan informasi sekilas tersebut di atas, bahasa primitif sekalipun sebenarnya terjadi mekanisme coding-decoding. Artinya hanya masyarakat pengguna bahasa primitif tersebut yang “fasih berbahasa”. Orang-orang di luar menganggap “coding-decoding” sebagai sesuatu yang rahasia, yang pada gilirannya tidak memahami atau tidak mengerti komunikasi yang sedang terjadi.

Dengan kata lain, bahwa coding-decoding sebenarnya telah dipergunakan oleh warga dunia dengan ragam kecerdasannya pada puluhan ribu tahun yang lalu!

Kembali ke Laptop!

Satu bahasa menunjukkan satu paket rantai panjang coding-decoding. Berarti, dua bahasa menunjukkan dua paket rantai panjang coding-decoding. Dalam hal ini balita (atau siapapun) mengalami Campur Kode manakala apa yang akan disampaikan tidak berada dalam satu kode atau bahasa yang sama. Satu kata dengan Bahasa Pertama sedangkan kata berikutnya dengan Bahasa Kedua, demikian seterusnya. Dengan harapan ucapan yang disampaikan bisa dimengerti oleh lawan bicara (Ibu, ART, anggota keluarga lainnya).

Campur kode adalah penyisipan unsur bahasa kedua (kode komunikasi yang berbeda) di saat menggunakan bahasa pertama. Sedangkan Alih Kode merupakan peralihan klausa dari suatu bahasa ke klausa bahasa lain. Dalam hal ini klausa dianggap merupakan satu rangkaian kode terintegrasi yang dipahami oleh komunikator dan komunikan.

Dalam hal ini anak-anak tidak merasa khawatir atau tidak begitu peduli bahwa komunikasi yang mereka sampaikan menunjukkan Campur Kode.

Melestarikan Bahasa Ibu

Kita sadari dan akui bersama bahwa Bahasa Daerah, misalnya Bahasa Jawa adalah Bahasa Ibu atau Bahasa Pertama dan Bahasa Indonesia merupakan Bahasa Kedua. Penggunaan Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi telah mendominasi dalam rentang waktu 24 jam. Di sekolah selama 7 jam peserta didik menerima transformasi pendidikan dan pengajaran dengan Bahasa Indonesia. Di luar pembelajaran mereka berhadapan dengan gawai dengan komunikasi Bahasa Indonesia. Kapan efektif menggunakan Bahasa Jawa?

Oleh sebab itu, dengan memperhatikan kondisi semacam ini, sudah sepatutnya kita berusaha melestarikan Bahasa Daerah masing-masing. Cara termudah, dalam satuan terkecil, orang tua berperan dengan kesadaran penuh menggunakan Bahasa Ibu (Bahasa Daerah) dalam komunikasi di tingkat keluarga. Demikian pula di tingkat hidup bertetangga. Sebab, bila tidak dilestarikan Bahasa Ibu akan tergerus oleh peradaban modern yang cenderung menggunakan Bahasa Indonesia (Bahasa Kedua) dan atau Bahasa Asing (Bahasa Ketiga).

Disadari atau tidak bahwa Ibu memang sebagai Madrasah Pertama. Di madrasah pertama inilah, Ibu mengajari Qaulan ma’rufan, Qaulan Sadida, Qaulan Baligha, Qaulan Karima, dan Qaulan Layyinan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Dengan harapan budi bahasa (adab), dan budi daya (budaya termasuk bahasa di dalamnya) bisa diwariskan kepada anak-anaknya, yang pada gilirannya bisa dilestarikan.

Harus kita ingat dan kita merasa prihatin bahwa di Indonesia, ada sebelas Bahasa Daerah yang mengalami kepunahan, yaitu bahasa : 1. Hoti – Maluku, 2. Hukumina – Maluku, 3. Kajeli - Kayeli Maluku, 4. Mawes – Papua, 5. Moksela – Maluku, 6. Nila – Maluku, 7. Palumata – Maluku, 8. Piru – Maluku, 9. Serua – Maluku, 10. Tandia - Papua Barat, dan 11. Ternateno - Maluku Utara. Sebagai catatan bahwa kepunahan suatu bahasa disebabkan oleh : 1. berkurangnya jumlah penuturnya karena penutur aslinya tinggal beberapa orang saja, 2. terdesak oleh pengaruh bahasa-bahasa daerah lain yang lebih dominan.

Sedangkan pergeseran penggunaan bahasa dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia disebabkan oleh : 1. Lingkungan pergaulan yang majemuk bahasa dan suku, 2. medan tugas yang relatif tidak tetap atau berpindah-pindah, dan 3. orang tua berlainan suku. Bagaimanapun dalam keluarga, Ibu tetap berperan menjaga komunikasi dengan bahasa tutur yang dikuasai dan tetap dipergunakan dalam bertutur dengan anak-anaknya. Bukan berarti fanatisme terhadap Bahasa Daerah, melainkan siapa lagi kalau bukan kita (keluarga) yang melestarikan. Perkara Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Kedua, sebenarnya anak-anak sudah bisa beradaptasi sewaktu hadir di sekolah dan berbaur dengan teman-teman yang berbeda suku dan bahasa daerah.

Seperti dalam tulisan ini yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, penulis tetap menggunakan Bahasa Jawa dalam pergaulan sehari-hari baik mode Ngoko maupun mode Krama Madya dengan siapapun terutama dalam lingkup yang tidak formal. Meski Bahasa Jawa, sebagai bahasa daerah terbanyak penuturnya di antara 715 bahasa daerah, tidak menutup kemungkinan di waktu mendatang bakal tergerus dan populasi penuturnya bakal berkurang apabila anak-anak kita sebagai generasi penerus sudah tidak lagi mampu atau bersedia menggunakan Bahasa Jawa sebagai Bahasa Ibu.

Dalam rangka menjaga keanekaragaman budaya dan bahasa di Indonesia, pelestarian bahasa daerah menjadi suatu hal yang sangat penting. Pendidik, orang tua, literat, budayawan, sastrawan, dan masyarakat dapat berperan aktif dalam melestarikan bahasa daerah agar tetap hidup dan terus berkembang. Salah satu alasan utama pentingnya melestarikan bahasa daerah adalah untuk melindungi warisan budaya. Bahasa daerah merupakan salah satu wujud nyata dari tradisi, sejarah dan nilai-nilai yang dianut oleh suatu komunitas. Melalui bahasa, cerita rakyat, dongeng, dan pengetahuan genetik dapat dilestarikan.

Referensi :
https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7231619/kemendikbud-ungkap-11-bahasa-daerah-di-indonesia-punah-ini-deretannya

Pangkur-Ngawi, 07 Juni 2024 M / 29 Dzulqa’idah 1445 H Pukul 13.26 WIB *) Penulis adalah Budayawan/Penasihat GPMB Ngawi bertempat tinggal di Desa Pangkur, Kecamatan Pangkur, Ngawi dan Pengurus PCM Pangkur

Minggu, 09 Juni 2024

Balada Guru Penggerak - Esai Kusfandiari MM Abu Nidhat


Menuntut Ilmu menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits

Dalam Islam, menuntut ilmu merupakan sebuah kewajiban yang patut dilakukan oleh setiap muslim/muslimah sejak lahir. Kewajiban dan pentingnya menuntut ilmu dijelaskan dalam sejumlah hadits.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan ilmu adalah pengetahuan tentang bidang yang disusun secara sistematis dengan metode tertentu untuk menjelaskan suatu gejala di bidang pengetahuan.

Dalam Islam, ilmu yang dimaksud tidak terbatas pada ilmu agama, bisa juga pengetahuan umum seperti sains, budaya, dan teknologi. Firman Allah dalam QS Surat Al-Mujadalah 58:11 :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: "Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Bagi umat Muslimin/Muslimat, kewajiban, manfaat, dan hikmah menuntut ilmu banyak dijelaskan dalam hadits, di antaranya :
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim" (Hadits Riwayat Ibnu Majah nomor 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami'ish Shaghiir nomor 3913).

Dalam hadits lainnya Rasulullah SAW bersabda:
تَعَلَّمُوْاوَعَلِّمُوْاوَتَوَاضَعُوْالِمُعَلِّمِيْكُمْ وَلَيَلَوْا لِمُعَلِّمِيْكُمْ ( رَواهُ الطَّبْرَانِيْ)

"Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu. (Hadits Riwayat Thabrani).

Sebagai penuntut ilmu, setiap kita wajib menghormati guru-guru yang telah memberikan ilmu kepada kita. Sebaliknya, sebagai guru (ustadz/ustadzah), guru ASN maupun guru P3K, guru penggerak dan guru biasa, kita berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi para penuntut ilmu agar ilmu yang kita berikan menjadi berkah, bermashlahah, dan bermanfaat bagi mereka.

Belajar Mengambil Sudut Pandang dari Guru Penggerak

Guru Penggerak adalah pemimpin dalam proses belajar-mengajar yang membantu pertumbuhan dan perkembangan siswa secara menyeluruh, aktif, dan proaktif, ia juga memotivasi guru lain untuk menerapkan pendekatan belajar yang berfokus pada siswa dan menjadi contoh dan agen perubahan dalam ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil siswa Pancasila yang ideal.

Tidak semua guru bisa jadi guru penggerak. Tidak semua guru ASN bisa jadi guru penggerak. Jika akhir-akhir ini posisi guru penggerak, kita mesti belajar mengambil sudut pandang dari guru penggerak. Terkait dengan kesastraan, kita bisa mengambil keakuan sebagai muhasabah sebagai guru penggerak. Jika kita adalah guru biasa, kita bisa membayangkan sebagai guru penggerak.

Bagi yang jadi guru penggerak, berlapang dadalah manakala ada sejumlah masalah yang lagi Anda hadapi.

Dari Ironi ke Sarkasme

Satire (bahasa Latin : 'satura') berarti sindiran atau kecaman. Puisi satire adalah puisi yang bertujuan untuk menyindir atau mengecam tentang sesuatu yang dianggap tidak wajar, tidak benar, tidak tepat, dan sebagainya. Puisi ini menggunakan gaya bahasa ironi, parodi, atau sarkasme. Majas ironi adalah gaya bahasa yang melukiskan suatu maksud dengan mengatakan kebalikan dari keadaan yang sebenarnya dengan tujuan menyindir. Majas Parodi adalah gaya bahasa yang melukiskan subjek dalam bentuk plesetan, lelucon, dan atau olokan bahkan sampai level hiperbolik. Sedangkan majas sarkasme adalah gaya bahasa yang menerapkan ejekan bahkan sampai menyakitkan hati (kepahitan dan atau kegetiran yang tidak enak didengar).

Alasan orang suka menyindir, di antaranya menjatuhkan mental seseorang, mengingatkan agar kembali ke jalan yang lurus, menyadarkan agar ada kepedulian. Ada juga yang beralasan enggan mengungkapkan hal secara terbuka, dengan cara menggunakan majas personifikasi, hiperbola, asosiasi, dan sebagainya.

Selain menyindir, merundung secara verbal mencakup mengolok-olok, menghina, dan mengancam. Contoh ungkapan menyindir : “Orang yang mementingkan diri sendiri, ialah orang yang bisa membangkitkan kebencian, membangun kejengkelan, bertindak kejam, dan tidak pernah mau mengerti.”

Peribahasa Beraroma Menyindir

Peribahasa pun bisa dipergunakan untuk menyindir, namanya peribahasa sindiran halus. Peribahasa ini terdengar menyakitkan dan dapat digunakan untuk mengungkapkan rasa kesal kepada orang bermuka dua. Peribahasa tersebut dapat digunakan untuk menyadarkan seseorang agar bisa memperbaiki sikapnya. Misalnya : “Musang berbulu ayam adalah musuh dalam selimut. Saat habis manis sepah dibuang, air susu pun dibalas dengan air tuba.”

Menyindir pun bisa kita buat dalam bentuk puisi, namanya puisi satire. Misalnya intensitas penggunaan ponsel yang begitu tinggi, bisa kita buat sindiran. Minimal menyindir untuk diri sendiri.

Dan Inilah Puisi Satire

Dengan mengubah sudut pandang, jadilah puisi dengan menggunakan majas personifikasi. Ponsel kita buat berbicara sendiri sebagai kata ganti orang pertama (pronomina pertama), sebagai berikut.

Contoh 1

Akulah Ponsel

Tua muda, laki-laki perempuan
Dewasa anak-anak, kaya miskin
Kalian tak pernah lepas dariku
Dan aku setia menemani kalian

Di beranda, di kamar tidur
Di rumah, di tempat wisata
Bahkan kemanapun kalian bawa aku
Dan aku setia melayani kalian

Kalian sampaikan pesan tertulis
Gambar, video, dokumen, maupun tautan
Untuk menyita perhatian teman-teman
Aku pun bersedia menyampaikan

Kalau pulsa menipis atau paketan habis
Segera saja kalian menghubungi konter
Untuk kalian tambahkan seberapa cukup
Agar tak ketinggalan informasi

Begitu asyik denganku
Sampai kalian lupa bahwa aku low batt
Kelaparan energi listrik parah
Buru-buru kalian cas untuk beberapa saat

Aplikasi apa saja kalian unduh
Tentu sesuai dengan kebutuhan
Bahkan sampai kapasitas mencapai batas
Yang membuat aku lambat melaksanakan tugas

Banyak grup yang kalian ikuti

Banyak pesan yang tak bisa kalian tanggapi
Cukup kalian skrol ke bawah
Seolah-olah kalian membaca satu persatu

Kalian tak termasuk anggota yang aktif
Kalian cukup monitor
Meski adakalanya di grup jadi sepi
Dan kalian biarkan kesunyian nyata adanya

Ada juga sejumlah teman yang aktif
Masing-masing saling menanggapi
Tak pedulikan teman-teman lain
Percakapan hanya terjadi tiga empat orang

Aku lahir dari beragam pabrikan
Juga dari tahun yang berbeda
Setiap saat sedia melayani kalian
Kalian pun sangat menyayangi keberadaanku

Antahberantah, 20240531.14451123.11.16

Contoh 2

Katamu

Katamu
penggerak itu
pribadi yang melihat kesulitan sebagai tantangan
yang akan mendorong dirinya menjadi pribadi yang lebih baik
tetapi adakalanya
kau malah kehilangan daya dorong
dan sangat membutuhkan dorongan

Katamu
penggerak itu
melihat peserta didik yang tertinggal di kelas
sebagai kesempatan untuk mengasah kapabilitasnya
tetapi adakalanya
kau begitu mudah meloloskan mereka yang terindikasi tinggal di kelas
dan tidak ingin merepotkan tugas-tugas lain yang belum kau selesaikan

Katamu
penggerak itu
yakin bahwa dengan teman-teman sejawat lain
yang lambat melakukan perubahan bisa bangkit dan bergegas mengubah paradigma
tetapi adakalanya
kau malah putus asa dan menjauhi mereka
yang tidak mengerti atau tidak mau melakukan perubahan
sebagai perintang yang menghambat kemajuan diri sendiri

Katamu
penggerak itu
pribadi yang menyadari bahwa waktu yang tersedia
untuk belajar bersama teman-teman sejawat
berkordinasi dan berkolaborasi dalam kancah untuk maju bersama
menemukan inovasi dan mengembangkan secara berkelanjutan
tanpa teman-teman sejawatmu kegiatan apapun takkan membawa hasil
tetapi adakalanya
kau asyik dengan kesibukan dirimu sendiri
dan tidak ingin diganggu oleh aktivitas lain yang kau anggap remeh-temeh
beribu alasan kau kemukakan sekedar menghindari tugas yang jauh dari portofolio

Katamu
penggerak itu
pribadi yang menyadari bahwa kegagalan adalah keharusan bukan keniscayaan
sebab kalau tidak ada kegagalan artinya tidak pernah mencoba hal baru.
kegagalan adalah bagian dari pembelajaran
menjadi penggerak, mendorong teman sejawat
untuk melakukan hal-hal yang berbeda
hal-hal yang mungkin gagal tetap perlu dicoba
tetapi adakalanya
kegagalan kau anggap sebagai hal yang tidak perlu diselesaikan
membiarkannya berlalu begitu saja dan menguap ditelah waktu dan musim

Katamu
penggerak itu
pribadi yang secara otentik mau berbagi ilmu
dan berani tampil di depan teman-teman sejawat
melalui beragam media sosial
untuk menunjukkan ‘saya belajar apa hari ini’
hal ini bertujuan agar teman sejawat lain menyadari
bahwa sebenarnya profil yang melekat pada pribadi
adalah program yang harus diaplikasikan dari guru dan untuk guru
ada kesadaran untuk mengembangkan potensi peserta didik secara merata
tetapi adakalanya
kau malah sibuk dengan acara seremonial yang penuh dengan iming-iming sertifikat
untuk mencapai target menggapai poin-poin profesional dan abai terhadap pembelajaran

Katamu
penggerak itu
pribadi yang menyadari
bahwa kompetensi para peserta didik itu berbeda satu sama lain
dan juga teman-teman sejawat di sekitarmu
tetapi adakalanya
kau sangat mengeluh tak tersedianya waktu untuk melayani mereka satu persatu
dan sangat menghambat penyelesaian tugas-tugas rutinmu yang tak pernah kunjung rampung

Antahberantah, 20240531.14451123.12.52

Inspirasi dari https://edukasi.kompas.com/read/2021/04/04/211044971/mendikbud-nadiem-7-ciri-yang-harus-dimiliki-guru-penggerak.

Contoh 3

Haruskah Kalian Bedakan
[Dari Guru Biasa]

Dulu,
profesi guru adalah satu untuk semua
kini,
Program Guru Penggerak telah memisahkan
Guru penggerak dan kami guru biasa-sa

Tak sadarkah kalian
Bahwa program ini berdampak signifikan
pada nasib dan masa depan para guru
menimbulkan ketidakadilan dalam perlakuan.
Guru Penggerak kalian perlakukan begitu istimewa memperoleh prioritas utama
Kalian beri banyak dana untuk menempuh jenjang karier
dan prospek untuk kalian promosikan menjadi kepala sekolah
Sebaliknya
kami tak memperoleh perhatian, terpinggirkan dan kurang dihargai
Bahkan tak ada peluang untuk berkembang,
kalian anggap kami tak berkompetensi yang mumpuni
yang sebenarnya kami juga berkontribusi besar dalam dunia pendidikan.

Tak sadarkah kalian
Bagaimanapun kami butuh dorongan moral dan semangat
karena tak ada penghargaan terhadap kerja keras kami
kami kurang termotivasi untuk memberikan yang terbaik
perpecahan ini berimbas pada kualitas pendidikan dan pengajaran.
dan akhirnya pada prestasi siswa.

Kalian mesti mencari dan menemukan solusi
untuk menciptakan sistem
yang memberikan kesempatan pengembangan karier yang sama bagi kami
tanpa memandang status sebagai Guru Penggerak atau guru biasa
yang memberikan penghargaan dan insentif yang adil
berdasarkan prestasi dan dedikasi, bukan hanya pada status atau gelar.
Yang menyediakan pelatihan dan program pengembangan kompetensi
yang dapat kami akses untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan kami
yang mendorong dialog terbuka bagi kami
untuk memahami perbedaan pandangan dan mencari solusi bersama
yang dapat kami terima

langkah-langkah inilah
yang dapat meredam perpecahan
agar kami bisa kembali bersatu untuk mencapai tujuan yang sama
meningkatkan kualitas pendidikan di negeri tercinta ini

Antahberantah, 20240531.14451123.12.38
Inspirasi dari https://www.panjinasional.net/pendidikan/81406637/ini-masalah-serius-adanya-guru-penggerak-dan-guru-biasa-di-era-kementerian-pendidikan?page=2
https://www.detik.com/sulsel/berita/d-6476158/20-hadits-tentang-menuntut-ilmu-pahalanya-seperti-orang-yang-haji-sempurna

Demikianlah cara kita membuat puisi satire. Semoga bisa kita terapkan secara produktif dengan mempertimbangkan bahwa substansi yang ada dalam puisi bisa membangun pemahaman yang positif dan atau mengubah pandangan yang dulu negatif, yang dulu stagnan dalam pola pikir menjadi pribadi yang berkemajuan, tahan banting, dan bisa beradaptasi di era yang penuh dinamika ini.

Semoga pula guru penggerak dan guru biasa bisa mengembangkan (puisi) balada sesuai dengan kompetensi masing-masing. Dan yang tidak kalah penting, mari kita kembali ke jalan yang lurus, kita niatkan secara istiqamah ikhlas untuk beribadah kepada Allah dengan membimbing para peserta didik agar mereka tumbuh dan berkembang segala ragam kecerdasannya sebagai bekal hidup di masa mendatang.

Selamat mencoba.
Nashrun min Allaah wa fathun qariib.

Pangkur-Ngawi, 31 Mei 2024 M / 23 Dzulqa’idah 1445 H pukul 06.43 WIB
*) Penulis adalah Budayawan/Penasihat GPMB Ngawi bertempat tinggal di Desa Pangkur, Kecamatan Pangkur, Ngawi dan Pengurus PCM Pangkur